RADARSITUBONDO.ID - Trauma sering dilihat sebagai sebuah beban yang akan selalu ada. Tetapi, penelitian terbaru dalam psikologi menunjukkan bahwa manusia dapat tumbuh bahkan setelah mengalami kejadian yang sangat sulit.
Baca Juga: Festival Literasi Akbar Pertama di Situbondo, Digelar Lima Hari di Alun-Alun Kota
Di tahun 1990-an, dua psikolog bernama Richard Tedeschi dan Lawrence Calhoun mengembangkan teori Pertumbuhan Pasca Traumatik (PTG) dengan alat yang disebut Posttraumatic Growth Inventory pada tahun 1996.
Pertumbuhan Pasca Traumatik adalah perubahan positif pada cara berpikir seseorang setelah menghadapi krisis atau kejadian traumatis, di mana kesulitan bisa membawa perubahan dalam cara berpikir tentang diri sendiri, orang lain, dan dunia.
Hal yang penting untuk diingat adalah bahwa PTG adalah perubahan positif yang terjadi karena berjuang dengan trauma atau situasi yang sangat sulit.
Perubahan ini tidak menggantikan dampak negatif, tetapi berjalan bersamaan dengan proses pemulihan.
Trauma bisa membuat kita menyadari kekuatan yang kita miliki, membuka kemungkinan baru, meningkatkan hubungan dengan orang lain, menghargai hidup lebih banyak, dan juga tumbuh secara spiritual. Lima dimensi ini muncul secara bertahap saat seseorang menyembuhkan diri sendiri.
Baca Juga: Minat Baca Warga Situbondo Naik, Bunda Baca Ajak Pemuda Jadikan Literasi Gaya Hidup
Kita bisa mendorong pertumbuhan setelah trauma dengan cara belajar berpikir kembali tentang diri kita, dunia, dan masa depan serta mengatur emosi untuk menghadapi perasaan negatif.
Beberapa cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan berbagi pengalaman, mencari makna dalam kejadian, dan terbuka untuk menerima dukungan dari orang lain atau profesional.
Baca Juga: Mengapa Anak Sering Menggigit Kuku? Penyebab dan Cara Mengatasinya
Menyadari adanya trauma bukan berarti seseorang lemah. Sebaliknya, keinginan untuk menghadapi rasa sakit dan mencari makna di dalamnya menunjukkan kekuatan yang sebenarnya.
Perjalanan untuk berubah memerlukan waktu dan dukungan, tetapi banyak orang telah menunjukkan bahwa pengalaman paling sulit sering kali menjadi pelajaran terbaik untuk pertumbuhan pribadi yang berkelanjutan.
Editor : Ali Sodiqin