RADARSITUBONDO.ID - Ketika seseorang mengalami kejadian yang sangat menyakitkan, perubahan yang terjadi tidak hanya di pikiran saja.
Penelitian dalam ilmu saraf menunjukkan bahwa trauma meninggalkan jejak nyata di cara otak kita bekerja dan strukturnya.
Baca Juga: Festival Literasi Akbar Pertama di Situbondo, Digelar Lima Hari di Alun-Alun Kota
Saat seseorang mengalami trauma yang serius, bagian-bagian tertentu dari otak, seperti amigdala (yang mengatur rasa takut), hippocampus (yang menyimpan ingatan), dan korteks prefrontal (yang mengontrol logika dan emosi), dapat berfungsi dengan tidak baik. Ketiga bagian ini bekerja dalam sistem limbik, yang adalah pusat pengaturan emosi dan memori.
Amigdala, yang sebesar kacang almond, berfungsi sebagai alarm emosional dalam tubuh. Ketika seseorang mengalami peristiwa traumatis, amigdala akan merespons dengan menciptakan rasa stres dan ketakutan yang sangat kuat terhadap kenangan tertentu, sehingga kontrol atas rasa takut dan kecemasan menjadi tidak seimbang dan menyebabkan orang merasa cemas berlebihan.
Di sisi lain, hippocampus yang berfungsi untuk membentuk dan menyimpan memori bisa mengecil karena stres yang terus-menerus dari trauma.
Ketika seseorang berada dalam situasi berbahaya atau sangat stres, amigdala akan mengirim pesan ke bagian lain dari otak untuk menyiapkan tubuh dalam menghadapi bahaya tersebut.
Ini menciptakan reaksi "melawan, melarikan diri, atau membeku" yang secara alami dirancang untuk melindungi diri, tetapi ketika trauma terjadi, reaksi ini menjadi terlalu sensitif.
Trauma yang dialami saat anak-anak dapat mengganggu perkembangan normal otak, termasuk ukuran bagian otak yang membantu mereka merespons bahaya.
Akibatnya, orang tersebut menjadi lebih waspada, mudah terkejut, dan sering mengalami ingatan mendadak atau flashback yang tidak dapat mereka kendalikan.
Baca Juga: Minat Baca Warga Situbondo Naik, Bunda Baca Ajak Pemuda Jadikan Literasi Gaya Hidup
Dari sudut pandang psikologi, trauma mengubah cara seseorang memahami informasi dan melihat dunia di sekelilingnya.
Ilmu saraf melibatkan studi tentang sistem saraf dan cara berpikir untuk memahami bagaimana otak memengaruhi pikiran, emosi, dan perilaku. Perubahan ini bukanlah sesuatu yang mereka pilih, tetapi adaptasi otak terhadap ancaman yang dirasakan.
Perubahan dalam diri seseorang yang mengalami trauma adalah hasil dari interaksi rumit antara biologi otak dan pengalaman psikologis.
Pemahaman ini memberikan kesempatan untuk terapi yang lebih efektif yang dapat menargetkan baik aspek neurologis maupun psikologis dari trauma.
Editor : Ali Sodiqin