Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Mengapa Trauma Masa Kecil Membuat Sifat Kita Berubah di Usia Dewasa? Penjelasannya

Bayu Shaputra • Sabtu, 11 Oktober 2025 | 21:15 WIB
ILUSTRASI seorang anak yang mengalami trauma.
ILUSTRASI seorang anak yang mengalami trauma.

RADARSITUBONDO.ID - Pernahkah Anda berpikir mengapa seseorang bisa tampak berbeda atau mengapa mereka reaksi berlebihan dalam situasi tertentu? Jawabannya mungkin karena mereka pernah mengalami hal menyakitkan di masa kecil.

Penelitian menunjukkan bahwa cara kita berperilaku dan kepribadian kita saat dewasa bisa dipengaruhi oleh luka emosional yang kita alami waktu kecil.

 Baca Juga: Festival Literasi Akbar Pertama di Situbondo, Digelar Lima Hari di Alun-Alun Kota

Trauma di masa kecil bisa berasal dari pengalaman yang sangat menyakitkan, seperti pelecehan, bullying, atau kekerasan dari orang tua, yang membuat anak merasa stres.

Pengalaman ini bisa menjadi luka batin yang tetap ada hingga mereka dewasa, tersimpan dalam pikiran bawah sadar, dan bisa terlihat dalam perilaku serta emosi negatif, seperti merasa tidak dicintai, kurang percaya diri, cemas, atau ingin menguasai orang lain.

 Baca Juga: Festival Literasi Situbondo Angkat Narasi Lokal: Budaya, Kuliner, dan Tradisi Jadi Identitas Kota Santri

Trauma dapat mengubah cara otak bekerja, mengganggu cara kita merespons stres, dan mempengaruhi kemampuan kita untuk mengatur emosi.

Hal ini seringkali membuat seseorang sulit menjalin hubungan. Salah satu masalah utama adalah ketidakmampuan mengelola emosi.

Orang yang mengalami trauma masa kecil mungkin menjadi sangat sensitif, yaitu saat mereka tidak bisa mengontrol perasaan dengan baik, sering bereaksi berlebihan saat menghadapi situasi stres, dan selalu waspada.

Trauma masa kecil dapat mengubah cara pandang dan sikap seseorang, dengan risiko tinggi untuk mengalami masalah seperti kesulitan dalam hubungan, kecemasan, depresi, dan masalah dalam mengatur emosi. Kemampuan untuk fokus dan konsentrasi juga bisa terpengaruh, terutama saat belajar atau bekerja.

 Baca Juga: Kebiasaan Menggigit Kuku dan Kaitannya dengan Kesehatan Mental

Dampak lain yang signifikan adalah kesulitan dalam membentuk hubungan dengan orang lain. Seseorang yang mengalami trauma sering mengalami kesulitan untuk menjalin hubungan, yang bisa terlihat dari perilaku yang manipulatif, membutuhkan perhatian berlebihan, hingga menjadi agresif atau kekerasan.

Berita baiknya, ada cara-cara untuk sembuh dari trauma ini. Orang dapat melakukan berbagai kegiatan untuk mengenal diri mereka lebih baik, seperti menulis di jurnal, merenung, merawat diri sendiri, atau berbicara dengan ahli kesehatan mental.

Dengan pemahaman dan dukungan yang tepat, seseorang bisa mengatasi efek trauma dan membangun masa depan yang lebih baik.

Editor : Ali Sodiqin
#Trauma masa kecil