Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Mengapa Ghosting Lebih Menyakitkan daripada Ditolak?

Bayu Shaputra • Selasa, 14 Oktober 2025 | 02:00 WIB
Ilustrasi seorang pria yang galau setelah di ghosting oleh pujaan hatinya.
Ilustrasi seorang pria yang galau setelah di ghosting oleh pujaan hatinya.

RADARSITUBONDO.ID - Ketika seseorang tiba-tiba pergi tanpa memberi tahu atau memberi alasan, kita sebut itu ghosting.

Ini adalah pengalaman emosional yang sangat menyakitkan, tetapi berbeda dari penolakan langsung. Penelitian sekarang menunjukkan bahwa keduanya memberikan efek yang sangat berbeda pada kesehatan mental kita.

 Baca Juga: Dampak Terlalu Sering Makan Seblak bagi Kesehatan, Dari Gangguan Lambung hingga Penyakit Ginjal

Sebuah studi yang berjudul "The Phantom Pain of Ghosting" dari University of Milano-Bicocca, Italia, dipimpin oleh Alessia Telari, menemukan hal yang menarik.

Tidak seperti penelitian sebelumnya yang hanya mengandalkan ingatan, penelitian ini membuat situasi ghosting di laboratorium sosial dengan 46 orang relawan.

 Baca Juga: Ide Olahan Lezat dengan Ubi Cilembu dari Camilan hingga Kue

Eksperimen ini dilakukan dalam dua bagian. Pertama, relawan ngobrol lewat chat selama 15 menit setiap hari dengan orang yang sebenarnya adalah asisten peneliti.

Pada hari keempat, ada tiga kondisi yang dibuat, ghosting murni (asisten berhenti menjawab tanpa penjelasan), penolakan langsung (asisten berkata tidak ingin melanjutkan), atau situasi biasa tanpa gangguan.

 Baca Juga: Dampak Kenaikan Gaji Pensiunan PNS 2025 terhadap Perekonomian & Kesejahteraan

Hasilnya sangat mencolok. Ketika mengalami ghosting, rasa bingung meningkat secara signifikan dan berlangsung lama. Sebaliknya, penolakan langsung menyebabkan bingung itu cepat hilang.

Korban ghosting terus berpikir: "Kenapa dia pergi? Apa ada yang salah dengan saya? " Pertanyaan yang tidak terjawab ini menciptakan ketidakpastian yang mengganggu perasaan mereka untuk waktu yang lama.

Penelitian ini menunjukkan bahwa relawan yang mengalami ghosting merasa lebih terasing dari orang lain, merasa tidak dihargai, kurang percaya diri, bahkan cenderung lebih antisosial. Efek negatif ini bertahan jauh lebih lama dibandingkan dengan penolakan langsung.

 Baca Juga: Muslim Pro Rayakan 16 Tahun dengan Luncurkan Kampanye Hope for Palestine

Ketiadaan penutupan membuat korban ghosting terjebak dalam pertanyaan tanpa jawab. Ketika seseorang menolak dengan jelas, walaupun menyakitkan, Anda mendapatkan alasan dan dapat mulai proses penyembuhan. Dengan ghosting, Anda hanya mendapatkan keheningan.

Data menunjukkan bahwa ghosting cukup umum. Dalam konteks hubungan romantis, antara 28,5 hingga 47 persen orang pernah mengalami ghosting, sementara di aplikasi kencan, angkanya bisa mencapai 85 persen.

Baik ghosting maupun penolakan sama-sama meninggalkan luka emosional, tetapi ghosting menambah lapisan ketidakpastian yang mengganggu perasaan jauh lebih lama.

Penelitian ini mengukuhkan apa yang dirasakan banyak orang, pergi tanpa kabar memang lebih menyakitkan daripada penolakan yang jelas. Mengetahui perbedaan ini penting agar kita lebih peka dalam berkomunikasi dengan orang lain.

Editor : Ali Sodiqin
#Di Ghosting seseorang