RADARSITUBONDO.ID - iPhone menjadi benda yang sangat diincar oleh anak muda Indonesia, meskipun harganya bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat UMR di Jakarta 2025. Hal ini menciptakan budaya "flexing" yang menjadikan ponsel sebagai tanda status sosial.
Bisnis sewa iPhone seperti Byebeli sangat populer sekarang, dengan semua pemesanan terisi setiap akhir pekan untuk acara khusus seperti pernikahan dan foto-foto.
Gaya hidup pamer kekayaan ini menjadi tren baru di Indonesia, yang memiliki 191,4 juta pengguna media sosial pada tahun 2021.
Baca Juga: Spesifikasi Redmi K90 Pro Max: Layar 2K, Charging 100W, dan Kamera Flagship
Penelitian dari Virginia Tech menunjukkan bahwa keberadaan smartphone menciptakan situasi "poly-consciousness" yaitu ketika orang memiliki kesadaran yang terpecah antara berinteraksi langsung dengan orang lain dan dunia digital, bahkan saat ponsel tidak sedang digunakan.
Para peneliti menyebut ponsel sebagai "diri yang diperpanjang", terbukti ketika orang sering mengeluh "aduh" saat ponsel terjatuh, seakan-akan barang itu memiliki perasaan.
Baca Juga: Redmi K90 Pro Max Resmi Meluncur, Smartphone Gaming dengan Speaker Subwoofer Bose Pertama
Di India, penjualan iPhone meningkat 60 persen di tahun 2024, didorong oleh kelas menengah yang ingin memiliki barang tersebut meskipun harus berhutang.
Ada dampak negatif yang nyata, penggunaan yang berlebihan membuat orang terputus dari hubungan sosial, kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik, dan kebiasaan hidup yang tidak aktif.
iPhone bukan hanya alat untuk berkomunikasi, ia telah menjadi ajang pertempuran identitas digital untuk anak muda, yang membuat mereka harus memilih antara menjadi diri sendiri atau mendapatkan pengakuan secara online.
Editor : Ali Sodiqin