RADARSITUBONDO.ID - Lonjakan permintaan penyewaan iPhone menjelang Lebaran 2025 kembali menarik perhatian. Kejadian ini menunjukkan masalah di masyarakat Indonesia, apakah memiliki ponsel mahal itu hanya untuk kebutuhan teknologi atau juga untuk menunjukkan status sosial?
Data dari Kementerian Perindustrian menampilkan bahwa penjualan produk Apple di Indonesia mencapai Rp56 triliun selama tahun 2023-2024.
Baca Juga: Spesifikasi Redmi K90 Pro Max: Layar 2K, Charging 100W, dan Kamera Flagship
Sosiolog dari Universitas Indonesia, Devie Rahmawati, menjelaskan bahwa perilaku ini berasal dari struktur sosial yang berlapis di masyarakat Asia.
"Di Indonesia, merek bukan hanya produk, tapi juga kunci tak terlihat untuk masuk ke kelompok sosial tertentu," katanya. Konsep "4K" Kekuasaan, Kekayaan, Ketenaran, dan Kewibawaan menjadi ukuran untuk melihat status seseorang.
iPhone memberikan cara cepat untuk menunjukkan kekayaan dibandingkan harus berjuang lama untuk mendapatkan ketiga hal tersebut.
Baca Juga: Redmi K90 Pro Max Resmi Meluncur, Smartphone Gaming dengan Speaker Subwoofer Bose Pertama
Sosiolog dari UNS, Drajat Tri Kartono, mengemukakan bahwa masalah muncul ketika orang lebih mengutamakan pengakuan sosial daripada fungsi telefon itu sendiri.
Tren menyewa iPhone menjelang Lebaran menunjukkan bahwa adanya tekanan sosial membuat banyak orang ingin tampil sesuai harapan meski itu melampaui kemampuan mereka.
Media sosial semakin memperburuk keadaan ini dengan FOMO (Fear of Missing Out), di mana video unboxing dan ulasan produk menciptakan keinginan untuk memiliki gadget terbaru.
Baca Juga: Harga dan Varian iQOO Z10R di Indonesia, Apakah Worth It?
Namun, ada sisi kontradiktif dalam fenomena ini. Banyak pemilik yang masih bangga dengan iPhone model lama karena merek Apple sering dianggap sebagai simbol status bagi pemiliknya.
Ironisnya, ponsel Android flagship sering kali menawarkan spesifikasi yang lebih baik dengan harga yang lebih murah. Namun, pandangan umum tentang iPhone sebagai barang mahal tetap lebih kuat daripada logika biasa.
Ahli perilaku konsumen, Handi Irawan, menemukan tiga faktor budaya yang membuat masyarakat Indonesia terobsesi dengan gengsi, kebiasaan bersosialisasi yang menumbuhkan keinginan untuk pamer, warisan budaya feodal yang menciptakan kelas sosial, dan cara pandang tentang kesuksesan yang berfokus pada memiliki barang materi.
Baca Juga: Jalan Sehat Diikuti Ribuan Peserta, Bukti Partai Golkar Mengakar Kuat di Masyarakat
Masalah sebenarnya bukanlah tentang iPhone itu sendiri, tetapi ketika cinta terhadap merek mahal mengabaikan prioritas keuangan dan menciptakan ilusi kesuksesan di media sosial, ini menciptakan realitas yang menyamarkan perbedaan antara apa yang benar-benar diperlukan dan keinginan untuk mendapat pengakuan dari orang lain.
Editor : Ali Sodiqin