RADARSITUBONDO.ID - Generasi Z adalah orang-orang yang lahir antara tahun 1997 sampai 2012. Mereka sekarang membentuk 30% dari total penduduk dunia dan akan menjadi pemain penting di dunia kerja pada tahun 2025.
Namun, meskipun mereka energik dan punya banyak keterampilan digital, mereka juga menghadapi masalah kesehatan mental yang cukup serius.
Baca Juga: Baju Thrift Cepat Rusak? Hindari 5 Kesalahan Mencuci Ini
Sebuah laporan dari Deloitte tahun 2025 menunjukkan sesuatu yang mengejutkan, 52% Gen Z mengalami stres berlebihan di tempat kerja, naik dari 46% di tahun 2022.
Lebih dari sepertiga pekerja muda selalu merasa lelah, 35% merasa jauh dari pekerjaan mereka, dan 42% kesulitan melakukan pekerjaan mereka sebaik mungkin.
American Psychological Association bahkan mengatakan bahwa 91% Gen Z pernah merasakan gejala stres, baik fisik maupun emosional.
Baca Juga: Jangan Asal Cuci! Ini Cara Aman Bersihkan Pakaian Thrifting dengan Bahan Natural
Akar Permasalahan
Salah satu penyebab utama masalah kesehatan mental di Gen Z adalah karena terlalu banyak menggunakan teknologi. Mereka menghabiskan rata-rata 7 hingga 9 jam di depan layar setiap hari, dan 98% memiliki ponsel pintar.
Banyak dari mereka mengalami perundungan online (40% pernah mengalaminya) dan kecemasan sosial media, yang membuat mereka merasa harus selalu sempurna. Kehidupan digital yang tidak terbatas ini mengurangi interaksi langsung yang sehat.
Baca Juga: Robot Vacuum dengan Otak Drone! Berikut Keunggulan DJI Romo yang Bikin Rumah Makin Bersih
Kondisi ekonomi yang tidak menentu juga membuat situasi semakin sulit. Ancaman dari kecerdasan buatan terhadap pekerjaan tradisional, harga perumahan yang meningkat, dan pengurangan posisi manajer menengah membuat mereka cemas tentang masa depan.
Fenomena "unbossing" yang menghilangkan lebih dari sepertiga posisi manajerial pada tahun 2023 memaksa Gen Z untuk belajar memimpin diri sendiri tanpa bimbingan yang cukup.
Pandangan negatif terhadap dunia juga ikut berperan. Krisis iklim, kekerasan di berbagai tempat, dan pengalaman pandemi COVID-19 saat mereka tumbuh membuat mereka melihat dunia dengan cara yang kurang cerah.
Sebuah studi dari Montclair State University menunjukkan bahwa Gen Z melihat dunia sebagai tempat yang lebih berbahaya dibandingkan generasi sebelumnya.
Baca Juga: Vivo X300 Pro Resmi Global! Trio Kamera 200MP, Layar LTPO 120Hz & Fast Charge 90W
Solusi Praktis yang Terbukti Efektif
Hal pertama yang perlu dilakukan adalah menjadikan keseimbangan kerja dan kehidupan sebagai hal yang sangat penting, bukan sekadar fasilitas tambahan.
Gen Z yang mendapatkan dukungan untuk kesehatan mental di tempat kerja merasa lebih bahagia 19% lebih tinggi. Perusahaan harus memberikan kesempatan fleksibel untuk bekerja, cuti yang baik, dan program kesejahteraan untuk karyawan.
Ciptakan tempat kerja yang mendukung dengan hubungan antarpribadi yang tulus. Universitas California Berkeley menunjukkan bahwa memiliki rasa memiliki di tempat kerja dapat meningkatkan pembelajaran, retensi, dan inovasi. Hubungan yang baik di tempat kerja membantu berbagi pengetahuan dan mengurangi perasaan cemas.
Baca Juga: Jangan Salah Cuci! Ini Cara TepatRawat Baju Thrifting Sesuai Jenis Kainnya
Selain itu, penting untuk meningkatkan kesadaran tentang keuangan dan pengembangan diri. Meskipun dikenal mengutamakan kesehatan mental, 59% Gen Z justru membuat rencana untuk lebih banyak menabung di tahun 2025.
Perusahaan bisa mendukung mereka dengan memberikan pelatihan keterampilan, tunjangan pendidikan, dan rencana kenaikan gaji yang jelas.
Baca Juga: Cara Mencuci Baju Thrifting agar Bersih, Wangi, dan Aman Dipakai
Gunakan teknologi dengan cara yang positif dan tetap dalam batas yang sehat. Media sosial tidak selalu buruk, TikTok dan Instagram sekarang lebih banyak digunakan untuk berkomunikasi.
Kuncinya adalah memanfaatkan platform digital untuk membangun koneksi yang bermakna, belajar keterampilan, dan mendapatkan dukungan, bukan hanya untuk konsumsi konten yang tidak penting.
Masalah kesehatan mental Gen Z di lingkungan kerja bukan hanya tentang kelemahan mereka, tetapi juga merupakan reaksi terhadap perubahan dunia yang cepat.
Editor : Ali Sodiqin