RADARSITUBONDO.ID - Banjir rob adalah sebuah bencana yang terjadi ketika air laut meluap saat pasang tinggi, menggenangi kawasan daratan yang lebih rendah dari level permukaan laut.
Berbeda dengan banjir biasa, fenomena ini tidak tergantung pada seberapa banyak hujan turun dan bisa terjadi kapan saja sepanjang tahun.
Masalah banjir rob menjadi tantangan serius di banyak daerah pesisir Indonesia, terutama di pantai utara Pulau Jawa, pesisir timur Sumatera Utara, serta di kawasan Kalimantan Barat dan Selatan. Kota-kota seperti Jakarta Utara, Semarang, dan Pekalongan sering kali menghadapi risiko ini.
Baca Juga: Presiden Prancis Bertemu Xi Jinping, Fokus pada Keseimbangan Perdagangan
Karakteristik Banjir Rob
Banjir rob memiliki ciri unik yang membedakannya dari jenis banjir lainnya. Air yang menggenangi daerah terdampak memiliki rasa asin karena berasal dari lautan.
Menariknya, banjir ini dapat terjadi bahkan ketika cuaca cerah tanpa hujan, akibat siklus pasang surut yang alami.
Daerah dengan bentuk tanah datar yang berada di bawah permukaan laut sangat rentan terhadap banjir rob. Fenomena ini bisa berlangsung beberapa jam hingga berhari-hari, tergantung pada fase pasang surut yang terjadi saat itu.
Baca Juga: Teror Politik Mengintai Pemilu Peru 2026, Calon Presiden Luput dari Maut
Faktor Penyebab Utama
Pemanasan global menjadi penyebab utama yang memperburuk banjir rob dengan mencairkan es di daerah kutub, sehingga meningkatkan volume air laut secara drastis.
Penggunaan air tanah secara berlebihan mengakibatkan penurunan permukaan tanah yang semakin memperparah keadaan di kawasan pesisir.
Kerusakan ekosistem mangrove menghilangkan perlindungan alami terhadap gelombang air pasang, sedangkan penyumbatan sungai karena sampah membuat sungai tidak mampu menampung limpahan air laut saat pasang tinggi.
Baca Juga: Secercah Kebahagiaan di Gaza, Pernikahan Massal 54 Pasangan di Khan Younis Curi Perhatian Dunia
Dampak dari fenomena ini meliputi kerusakan pada infrastruktur, munculnya penyakit seperti diare dan infeksi saluran pernapasan, gangguan dalam lalu lintas, hingga pencemaran sumber air bersih.
Penanganan yang menyeluruh melalui pembangunan tanggul, restorasi mangrove, dan perbaikan sistem drainase menjadi kunci untuk mengatasi masalah ini.
Editor : Ali Sodiqin