RADARSITUBONDO.ID - Matcha, yang merupakan bubuk teh hijau khas dari Jepang, menyimpan banyak fakta menarik yang jarang diketahui orang.
Teknik budidaya matcha, yang melibatkan penutupan tanaman teh selama 2-3 minggu menjelang panen dengan bahan seperti yoshizu atau komo, telah berkembang di Jepang sejak abad ke-16. Proses penutupan ini bertujuan untuk meningkatkan kandungan klorofil dan L-theanine dalam daun teh.
Baca Juga: Xiaomi Kembangkan Ponsel Baterai 10.000 mAh dengan Ketebalan di Bawah 8,5 mm
Penggilingan matcha yang dilakukan dengan menggunakan batu granit tradisional hanya memproduksi sekitar 40 gram bubuk dalam satu jam.
Metode yang lambat ini bertujuan untuk menjaga kualitas serta menghindari peningkatan suhu yang bisa merusak aroma dari matcha.
Ukuran partikel matcha berkisar antara 5 hingga 15 mikron, sehingga jauh lebih halus dibandingkan dengan tepung biasa.
Baca Juga: Realme GT 8 Pro Absen di Indonesia, Namun Ada Kejutan Lain di 2026
Varietas teh matcha berkualitas tinggi umumnya berasal dari daerah selatan Jepang, di mana varietas Yabukita dominan dan terkenal karena rasa umami yang kuat serta ketahanannya dalam penyimpanan.
Selain itu, ada juga varietas lain seperti Okumidori, Samudori, dan Asahi yang digunakan oleh para produsen matcha.
Berbeda dengan teh biasa yang diseduh, matcha dikonsumsi dengan cara diminum secara langsung bersama seluruh daun yang telah digiling, sehingga kandungan nutrisinya menjadi lebih tinggi. Warna hijau cerah matcha juga menjadi tanda kualitas yang terbaik.
Editor : Ali Sodiqin