RADARSITUBONDO.ID - Tradisi pengiriman kartu Natal yang kini menjadi fenomena internasional dimulai di London, Inggris, pada tahun 1843.
Inisiatornya adalah Henry Cole, seorang pegawai negeri yang terlalu sibuk untuk menulis ucapan Natal kepada teman dan sanak saudaranya secara manual.
Baca Juga: Hasil TKA SMA 2025 Resmi Diumumkan Hari Ini, Begini Cara Cek Nilainya
Kemudian, Cole meminta bantuan seniman John Calcott Horsley untuk merancang sebuah kartu yang dapat dicetak dalam jumlah banyak. Horsley menciptakan desain berbentuk triptych dengan ukuran 5⅛ x 3¼ inci pada bahan karton tebal.
Pada bagian tengah, terdapat gambar tiga generasi keluarga yang sedang merayakan dengan mengangkat gelas, disertai tulisan "Selamat Natal dan Tahun Baru yang Bahagia untuk Anda" di bawahnya.
Panel samping menggambarkan tindakan amal, memberikan makanan dan pakaian kepada mereka yang kurang mampu.
Baca Juga: Lonjakan Fantastis Harga Emas Antam Jelang Akhir Tahun 2025
Kartu ini dicetak menggunakan teknik litografi dengan warna sepia gelap dan diwarnai secara manual. Sebanyak 1.000 lembar dihasilkan dan dijual seharga satu shilling per kartu oleh penerbit Joseph Cundall.
Namun, desain ini menimbulkan kontroversi. Gerakan anti-alkohol di Inggris mengkritik gambar seorang anak kecil yang terlihat meminum anggur bersama keluarganya. Meskipun begitu, kontroversi ini justru mendorong popularitas kartu Natal semakin meningkat.
Baca Juga: Sawit Bebas Tarif, Trump Minta Akses Mineral Kritis dari Indonesia
Setelah mengalami penurunan, tradisi ini kembali muncul pada tahun 1862 ketika penerbit Charles Goodall menghasilkan kartu dengan desain yang lebih sederhana.
Sejak saat itu, kartu Natal terus mengalami perkembangan hingga menjadi tradisi internasional yang masih ada hingga saat ini.
Editor : Ali Sodiqin