Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Bukan Sekadar Takjil, Kolak Pisang Ternyata Media Dakwah Para Wali

Bayu Shaputra • Selasa, 17 Februari 2026 | 13:00 WIB
Kolak pisang.
Kolak pisang.

RADARSITUBONDO.ID - Kolak pisang telah lama menjadi sajian wajib saat berbuka puasa di Indonesia. Hidangan manis berbahan dasar gula aren, santan, dan pisang ini bukan sekadar takjil, melainkan menyimpan jejak sejarah panjang yang berakar kuat dalam tradisi Nusantara.

Berdasarkan penelusuran sejarah, kolak mulai dikenal luas pada masa kerajaan Islam di Nusantara, khususnya pada periode transisi dari Kerajaan Demak menuju Mataram Islam. Namun, jejak kuliner ini ternyata jauh lebih tua dari yang dibayangkan.

Arkeolog sekaligus dosen sejarah dari Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, mengungkapkan bahwa cikal bakal kolak sudah ada sejak tahun 902 Masehi. Saat itu, masyarakat Jawa Kuno mengenal minuman bernama “kilang”, yaitu nira kelapa atau aren yang dimasak hingga mengental menjadi gula merah.

 Baca Juga: ByteDance Luncurkan Doubao 2.0: Pesaing Berat GPT 5.2 dengan Harga Kali Lebih Murah

Seiring waktu, masyarakat melakukan inovasi dengan menambahkan santan serta potongan ubi dan pisang ke dalam kilang yang telah matang. Dari proses adaptasi inilah lahir sajian yang kini dikenal sebagai kolak.

Asal-usul nama kolak pun memiliki beberapa versi. Menurut Kiai Hasbullah, kata “kolak” diyakini berasal dari bahasa Arab “kul laka” yang berarti “makanlah untukmu”. Ada pula pendapat yang mengaitkannya dengan kata “khaliq” atau “khalaqa” yang merujuk pada Sang Pencipta.

Pada masa penyebaran Islam di Jawa, kolak disebut-sebut dimanfaatkan para wali sebagai media dakwah. Sajian ini dipilih karena sederhana, mudah dibuat, serta akrab dengan masyarakat sehingga pesan keagamaan lebih mudah diterima.

 Baca Juga: Militer AS Berhasil Hentikan Tanker Minyak Veronica III di Samudra Hindia

Menariknya, setiap bahan dalam kolak mengandung filosofi tersendiri. Pisang kepok dikaitkan dengan kata “kapok” yang menjadi simbol ajakan untuk bertobat.

Ubi atau telo pendem melambangkan upaya mengubur kesalahan masa lalu. Sementara santan atau “santen” dalam bahasa Jawa diartikan sebagai “pangapunten”, pesan tentang pentingnya memohon ampun kepada Tuhan.

Pada awalnya, kolak dikonsumsi pada bulan Syaban sebagai pengingat untuk mempersiapkan diri menyambut Ramadan. Namun kini, kolak identik sebagai menu berbuka puasa yang hadir sepanjang bulan suci.

Dengan bahan-bahan sederhana yang mudah ditemukan di berbagai daerah—seperti gula aren, pisang, ubi, dan santan—kolak berkembang menjadi beragam varian.

Mulai dari kolak biji salak, kolak nangka, hingga kolak durian, semuanya memperkaya khazanah kuliner Nusantara yang sarat makna sejarah dan spiritualitas.

Editor : Ali Sodiqin
#Takjil Ramadan #Sejarah kolak pisang