RADARSITUBONDO.ID - Bulan Ramadan selalu menghadirkan suasana religius yang khas. Salah satu ibadah yang paling identik dengan bulan suci ini adalah sholat Tarawih. Setiap malam, umat Islam berbondong-bondong ke masjid usai menunaikan sholat Isya untuk melaksanakan ibadah sunnah tersebut.
Namun, sebelum mengangkat tangan untuk takbiratul ihram, ada satu hal mendasar yang kerap terabaikan, yakni niat. Dalam ajaran Islam, niat menjadi rukun pertama yang menentukan sah atau tidaknya suatu sholat. Tanpa niat yang benar, ibadah yang dilakukan bisa menjadi tidak sempurna.
Baca Juga: Bukan Sekadar Takjil, Kolak Pisang Ternyata Media Dakwah Para Wali
Secara bahasa, kata tarawih berasal dari bahasa Arab “تَرْوِيْحَةٌ” yang berarti waktu untuk beristirahat. Penamaan ini merujuk pada kebiasaan jamaah yang beristirahat sejenak setiap selesai empat rakaat.
Sholat Tarawih merupakan ibadah khusus yang hanya dilaksanakan pada bulan Ramadan. Waktu pelaksanaannya adalah setelah sholat Isya dan biasanya ditutup dengan sholat Witir. Hukumnya sunnah muakkad, yakni sunnah yang sangat dianjurkan menurut mayoritas ulama.
Keutamaan sholat malam di bulan Ramadan juga dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muhammad.
Dalam hadis riwayat Sahih Bukhari dan Sahih Muslim disebutkan bahwa siapa saja yang melaksanakan ibadah di malam Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.
Baca Juga: Khilaf Menonton Konten Dewasa Saat Puasa? Ini Panduan Taubat yang Benar
Bacaan Niat Sholat Tarawih
Niat sholat Tarawih dibaca dalam hati tepat sebelum takbiratul ihram. Ada perbedaan lafadz niat tergantung pada posisi seseorang, apakah sebagai imam, makmum, atau melaksanakan sholat sendirian (munfarid).
Baca Juga: Hukum Melihat Video 18+ Saat Puasa Apakah Harus Qadha?
Niat sebagai Imam
اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ إِمَامًا لِلهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatat Tarāwīhi rak’atayni mustaqbilal qiblati adā’an imāman lillāhi ta’ālā.
Artinya: Aku berniat sholat sunnah Tarawih dua rakaat menghadap kiblat sebagai imam karena Allah Ta’ala.
Niat sebagai Makmum
اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatat Tarāwīhi rak’atayni mustaqbilal qiblati adā’an ma’mūman lillāhi ta’ālā.
Artinya: Aku berniat sholat sunnah Tarawih dua rakaat menghadap kiblat sebagai makmum karena Allah Ta’ala.
Niat Munfarid (Sendiri)
اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ لِلهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatat Tarāwīhi rak’atayni mustaqbilal qiblati lillāhi ta’ālā.
Artinya: Aku berniat sholat sunnah Tarawih dua rakaat menghadap kiblat karena Allah Ta’ala.
Perbedaan ketiga niat tersebut terletak pada satu kata, yakni “imāman” (sebagai imam), “ma’mūman” (sebagai makmum), atau tanpa tambahan keduanya bagi yang sholat sendiri. Setiap dua rakaat ditutup dengan satu salam, kemudian niat kembali dihadirkan untuk rakaat berikutnya.
Baca Juga: Barcelona Tumbang Dramatis di Kandang Girona, Posisi Puncak Melayang
Jumlah Rakaat Tarawih
Perbedaan jumlah rakaat Tarawih juga kerap menjadi pembahasan di tengah masyarakat. Mayoritas ulama dari Mazhab Syafi’i berpendapat bahwa jumlah rakaat Tarawih adalah 20 rakaat yang dilaksanakan dengan 10 kali salam, kemudian ditambah 3 rakaat Witir sehingga total menjadi 23 rakaat.
Namun, sebagian umat Islam juga melaksanakan 8 rakaat Tarawih ditambah 3 rakaat Witir, sehingga totalnya 11 rakaat. Kedua praktik tersebut memiliki dasar dan landasan dalam khazanah fikih Islam.
Dengan memahami niat, tata cara, serta jumlah rakaatnya, diharapkan umat Islam dapat menjalankan sholat Tarawih dengan lebih khusyuk dan sesuai tuntunan.
Editor : Ali Sodiqin