RADARSITUBONDO.ID - Es campur masih menjadi salah satu minuman tradisional yang paling diburu saat Ramadan. Kehadirannya hampir tak pernah absen di meja berbuka puasa masyarakat Indonesia.
Perpaduan es serut dengan cincau hitam, kolang-kaling, pacar cina, nata de coco, serta sirup merah yang disiram santan encer atau susu kental manis menciptakan sensasi manis dan segar yang khas.
Secara historis, es campur diperkirakan mulai dikenal sejak masa kolonial Belanda. Pada akhir abad ke-19, es batu mulai masuk dan diperkenalkan kepada masyarakat perkotaan di Pulau Jawa.
Kala itu, es tergolong barang mewah yang hanya tersedia di pasar-pasar besar dan dinikmati kalangan tertentu. Namun seiring perkembangan zaman, es campur bertransformasi menjadi minuman rakyat yang mudah dijangkau semua lapisan masyarakat.
Baca Juga: Berapa Kalori Kolak Pisang? Ini Kandungan Gizi dan Tips Lebih Sehat
Keunikan es campur juga terlihat dari ragam variasinya di berbagai daerah. Di Jakarta, minuman ini identik dengan sirup merah beraroma pandan atau mawar. Sementara di Bandung, dikenal sebagai es campur Bandung yang umumnya berisi lebih banyak jenis bahan.
Di sejumlah wilayah Sulawesi dan Kalimantan, pedagang kerap menambahkan potongan buah segar lokal sebagai pelengkap, memberikan cita rasa berbeda di tiap daerah.
Dalam momentum Ramadan, es campur menjadi pilihan takjil favorit karena mampu menggantikan cairan tubuh dengan cepat sekaligus memberikan asupan gula untuk memulihkan energi setelah berpuasa seharian.
Kolang-kaling yang kaya serat serta cincau yang memberikan efek menyegarkan menjadikan minuman ini tidak hanya lezat, tetapi juga fungsional.
Baca Juga: Resep Kolak Pisang Enak dan Lembut, Kuah Santan Gurih Anti Pecah
Hingga kini, es campur tetap mudah ditemukan di pasar-pasar Ramadan di berbagai kota. Harganya pun relatif terjangkau, berkisar antara Rp5.000 hingga Rp20.000 per porsi, tergantung kelengkapan isi dan lokasi penjualan.
Di tengah maraknya minuman modern dan kekinian, es campur membuktikan diri sebagai kuliner tradisional yang mampu bertahan lintas generasi.
Editor : Ali Sodiqin