RADARSITUBONDO.ID - Banyak orang memanfaatkan waktu puasa dengan tidur sepanjang hari agar tak merasakan lapar dan waktu berbuka terasa lebih cepat. Namun, kebiasaan tersebut ternyata tidak sepenuhnya tepat jika ditinjau dari sisi fisiologis.
Sejumlah penelitian di bidang metabolisme menunjukkan bahwa melakukan aktivitas ringan hingga sedang justru lebih efektif dalam membantu tubuh beradaptasi saat berpuasa.
Ketika tubuh bergerak, sistem saraf akan lebih fokus pada koordinasi otot dan fungsi motorik. Kondisi ini membuat sinyal lapar yang dikirim ke otak menjadi tidak terlalu dominan.
Baca Juga: Tiga Pilar Samurai Biru Cedera, Jepang Terancam Tanpa Kekuatan Penuh di Piala Dunia 2026
Selain itu, aktivitas fisik ringan membantu menjaga kestabilan kadar gula darah. Energi dalam tubuh digunakan secara bertahap dari cadangan yang tersedia, sehingga tidak terjadi lonjakan maupun penurunan drastis yang memicu rasa lemas.
Sebaliknya, tidur berlebihan di siang hari dapat mengacaukan ritme sirkadian atau jam biologis tubuh. Saat seseorang terbangun setelah tidur terlalu lama, produksi hormon ghrelin (yang berperan dalam memicu rasa lapar) cenderung meningkat.
Akibatnya, rasa lapar justru bisa terasa lebih kuat dibandingkan ketika seseorang tetap aktif beraktivitas.
Baca Juga: Magang Kemensetneg Kuartal II 2026 Dibuka untuk SMK hingga S1
Ahli gizi dari Universitas Indonesia, Dr. Ahmad Syarif, menjelaskan bahwa aktivitas ringan seperti berjalan kaki atau mengerjakan pekerjaan rumah dapat merangsang pelepasan endorfin. Hormon ini membantu memperbaiki suasana hati sekaligus menekan nafsu makan.
“Tubuh memiliki mekanisme adaptasi alami. Ketika kita bergerak, otak memprioritaskan energi untuk fungsi motorik, bukan untuk memperkuat sinyal kelaparan,” jelasnya.
Meski demikian, aktivitas berat seperti olahraga intensitas tinggi tidak disarankan saat berpuasa. Kegiatan yang terlalu menguras tenaga dapat mempercepat penurunan kadar gula darah dan meningkatkan risiko dehidrasi.
Karena itu, aktivitas yang ideal selama puasa adalah kegiatan produktif dengan intensitas ringan hingga sedang.
Pola ini dinilai mampu menjaga metabolisme tetap aktif, membantu mengalihkan perhatian dari rasa lapar, serta membuat ibadah puasa terasa lebih nyaman secara fisik dan psikologis.
Editor : Ali Sodiqin