RADARSITUBONDO.ID - Konten kreator kenamaan Bobon Santoso menyuarakan sikap tegas terkait kebanggaannya sebagai Warga Negara Indonesia (WNI).
Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons atas kontroversi yang melibatkan influencer sekaligus alumni penerima beasiswa LPDP, Dwi Sasetyaningtyas.
Melalui unggahan di Instagram pribadinya pada Minggu (22/2/2026), Bobon menuliskan kalimat singkat namun penuh makna, “Kami bangga terlahir sebagai WNI.” Unggahan itu langsung menarik perhatian publik dan ramai diperbincangkan di media sosial.
Baca Juga: Parlemen Inggris Pertimbangkan Selidiki Peran Andrew Mountbatten-Windsor sebagai Utusan Dagang
Pernyataan Bobon muncul setelah Dwi Sasetyaningtyas memamerkan paspor anaknya sebagai warga negara Inggris. Dwi dan suaminya, Arya Iwantoro, diketahui merupakan penerima beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Sebagai informasi, LPDP merupakan program beasiswa pemerintah yang membiayai penuh pendidikan Magister dan Doktor bagi WNI di luar negeri.
Para penerima beasiswa memiliki kewajiban untuk kembali ke Indonesia dan berkontribusi sesuai ketentuan yang berlaku setelah menyelesaikan studi.
Baca Juga: Paes Berpeluang Jadi Kiper Utama Ajax, Jaros Absen Hingga Akhir Musim
Bobon pun menyoroti ironi dalam polemik tersebut. Ia menyinggung kebanggaan saat mendaftar beasiswa atas nama negara, dibiayai oleh uang rakyat, menempuh pendidikan di luar negeri, hingga memperoleh gelar dan jaringan internasional.
Namun, ia mempertanyakan konsistensi sikap ketika di sisi lain memilih kewarganegaraan asing untuk generasi berikutnya.
“Menarik ya, waktu daftar beasiswa LPDP, bangga bilang ini kesempatan dari negara. Dibiayai uang rakyat, kuliah di luar negeri, dapat gelar, dapat jaringan, dapat masa depan yang lebih cerah. Semua atas nama Indonesia,” tulisnya.
Kreator yang dikenal lewat program memasak dalam jumlah besar bertajuk Masak Besar itu kemudian melontarkan pertanyaan retoris yang menyentuh sisi emosional publik.
Ia mempertanyakan apakah Indonesia cukup baik untuk menjadi penopang mimpi, tetapi tidak cukup layak untuk menjadi identitas bagi generasi selanjutnya.
Sikap Bobon mendapat banyak dukungan dari warganet. Tak sedikit yang menilai pernyataannya sebagai bentuk nasionalisme yang tulus, bukan sekadar retorika di media sosial.
Lahir di Denpasar pada 1988, Bobon dikenal sebagai konten kreator yang aktif berkeliling ke berbagai pelosok daerah untuk berbagi makanan kepada masyarakat.
Kepeduliannya terhadap kondisi sosial di Indonesia juga kerap ia tunjukkan dalam berbagai kesempatan, termasuk saat menyoroti ketimpangan pembangunan di wilayah timur Indonesia.
Sebagai figur publik berdarah Tionghoa yang secara terbuka menyatakan kebanggaannya sebagai WNI, Bobon dinilai memberikan pesan kuat bahwa identitas kebangsaan tidak dibatasi oleh latar belakang etnis.
Sikapnya kali ini pun mempertegas posisinya sebagai kreator yang tidak hanya berkarya, tetapi juga bersuara soal isu kebangsaan.
Editor : Ali Sodiqin