RADARSITUBONDO.ID - Bulan Ramadan selalu membawa perubahan dalam rutinitas harian, termasuk pola olahraga masyarakat.
Jika biasanya aktivitas fisik dilakukan pada pagi atau sore hari, kini banyak orang memilih jogging ringan setelah menunaikan salat terawih.
Olahraga malam hari, sekitar pukul 20.00–21.00 atau 30–60 menit setelah terawih, dinilai lebih nyaman.
Selain suhu udara yang cenderung lebih sejuk, jeda waktu tersebut memberi kesempatan bagi tubuh untuk mencerna makanan berbuka terlebih dahulu. Perut yang terlalu kenyang saat berlari berisiko menimbulkan rasa tidak nyaman, kram, bahkan mual.
Baca Juga: Oknum Brimob Diduga Aniaya Siswa MTs hingga Tewas di Tual, Polri Janji Tindak Tegas
Dengan memberi waktu pada sistem pencernaan bekerja lebih optimal, aktivitas jogging pun bisa dilakukan dengan lebih aman. Meski demikian, intensitasnya dianjurkan tetap ringan hingga sedang dengan durasi sekitar 20–30 menit.
Peningkatan detak jantung secara bertahap membantu melancarkan sirkulasi darah, memperkuat fungsi jantung, sekaligus membakar kalori dari hidangan berbuka.
Udara malam yang lebih bersahabat juga menjadi alasan mengapa olahraga setelah terawih terasa lebih nyaman dibandingkan saat siang hari yang panas. Namun, tidak semua orang bisa langsung menjalankan rutinitas ini tanpa pertimbangan.
Baca Juga: Parlemen Inggris Pertimbangkan Selidiki Peran Andrew Mountbatten-Windsor sebagai Utusan Dagang
Bagi penderita diabetes, olahraga dapat memengaruhi kadar gula darah sehingga pemantauan tetap diperlukan. Sementara itu, mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung disarankan berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai program jogging malam.
Selain itu, aspek hidrasi tidak boleh diabaikan. Setelah berpuasa seharian, tubuh membutuhkan asupan cairan yang cukup. Minum air putih sebelum dan sesudah berolahraga sangat penting untuk mencegah dehidrasi.
Pemilihan pakaian olahraga yang menyerap keringat serta rute jogging yang aman dan memiliki pencahayaan memadai juga menjadi faktor pendukung.
Menggabungkan ibadah terawih dengan olahraga ringan dapat menjadi momentum menjaga keseimbangan antara kesehatan fisik dan spiritual. Ramadan pun tak sekadar menjadi bulan ibadah, tetapi juga kesempatan untuk membangun gaya hidup yang lebih sehat secara menyeluruh.
Editor : Ali Sodiqin