Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Lawan Obesitas dan Diabetes, Thailand Terapkan Standar Baru Minuman Rendah Gula

Bayu Shaputra • Selasa, 24 Februari 2026 | 13:30 WIB

Tante Nid, yang tokonya telah menyajikan teh dan kopi di kota tua Bangkok selama 30 tahun.
Tante Nid, yang tokonya telah menyajikan teh dan kopi di kota tua Bangkok selama 30 tahun.

RADARSITUBONDO.ID - Thailand membuat terobosan besar dalam kebijakan kesehatan masyarakat. Mulai 11 Februari 2026, sembilan jaringan kafe besar di negara tersebut memangkas kandungan gula pada minuman dengan tingkat kemanisan “normal” hingga 50 persen dari resep sebelumnya.

Kebijakan ini diterapkan oleh sejumlah jaringan ternama seperti Café Amazon, Inthanin, All Café, dan Black Canyon.

Dengan aturan baru ini, konsumen yang memesan minuman dengan kadar gula standar otomatis akan mendapatkan versi yang lebih rendah gula tanpa perlu memilih opsi khusus.

 Baca Juga: Harga Emas 23 Februari 2026: Antam Rp3.012.000, Pegadaian Stabil, Emas Dunia Tembus US$5.100

Langkah tersebut diambil sebagai respons atas tingginya konsumsi gula masyarakat Thailand. Rata-rata penduduk tercatat mengonsumsi 21 sendok teh gula per hari, jauh melampaui rekomendasi World Health Organization (WHO) yang menyarankan batas maksimal enam sendok teh per hari.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Masyarakat Thailand, segelas kopi es berukuran 650 mililiter mengandung sekitar sembilan sendok teh gula.

Sementara itu, minuman bubble milk tea ukuran 300 mililiter bahkan dapat mencapai 12 sendok teh gula.

Kebijakan pemangkasan gula ini merupakan kelanjutan dari kampanye “Minuman Kurang Manis” yang digagas Departemen Kesehatan sejak Maret 2020.

Program tersebut memperkenalkan label visual kadar gula pada minuman, mulai dari 0 persen hingga 100 persen, guna membantu konsumen membuat pilihan yang lebih sehat.

 Baca Juga: Olahraga Malam Setelah Ibadah Terawih, Amankah untuk Kesehatan?

Hasilnya cukup signifikan. Pada April 2020, hanya 32 persen konsumen yang memilih minuman rendah gula. Namun dalam waktu tiga bulan, angka tersebut meningkat menjadi 55 persen.

Dalam kurun lima tahun, kampanye ini diklaim berhasil menurunkan konsumsi gula nasional hingga 57 persen. Jika pada 2019 konsumsi gula mencapai 2,5 juta ton, maka pada 2023 turun menjadi sekitar 0,8 juta ton.

Data terbaru juga menunjukkan perubahan perilaku masyarakat semakin kuat. Sebanyak 75 persen orang dewasa Thailand kini memilih minuman dengan kadar gula 0–75 persen.

Bahkan, 34,1 persen di antaranya memilih minuman dengan kandungan gula hanya 0–25 persen.

Direktur Jenderal Departemen Kesehatan Thailand, Amporn Benjaponpitak, menyebut kebijakan ini sebagai langkah besar dalam mengubah pola konsumsi gula masyarakat. Pemerintah menargetkan 90 persen konsumen akan memilih minuman rendah gula pada 2027.

Upaya ini menjadi bagian penting dari strategi nasional Thailand dalam menekan angka obesitas dan diabetes yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Editor : Ali Sodiqin
#thailand #Pengurangan kandungan gula