Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Lebaran Ketupat, Tradisi Akulturasi Islam-Jawa Sejak Abad ke-15

Bayu Shaputra • Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:45 WIB
Ilustrasi hidangan saat lebaran ketupat. (Radar Mojokerto)
Ilustrasi hidangan saat lebaran ketupat. (Radar Mojokerto)

 

RADARSITUBONDO.ID - Semangat kebersamaan masyarakat Jawa tidak berhenti saat perayaan Idul Fitri usai. Memasuki sepekan setelah hari raya, tradisi Lebaran Ketupat atau Kupatan kembali digelar pada 7 hingga 8 Syawal.

Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun sejak abad ke-15 dan menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial serta spiritual masyarakat.

Sejarah Lebaran Ketupat erat kaitannya dengan peran para Wali Songo dalam menyebarkan ajaran Islam di Pulau Jawa. Salah satu tokoh yang diyakini mempelopori tradisi ini adalah Sunan Kalijaga.

Ia menggunakan pendekatan budaya lokal, termasuk tradisi slametan, sebagai sarana dakwah agar ajaran Islam lebih mudah diterima masyarakat.

Baca Juga: Gol Enzo Fernandez dan Nico Paz Bawa Argentina Kalahkan Mauritania

Perkembangan tradisi ini terjadi pada masa Kesultanan Demak Bintoro, kerajaan Islam awal di Jawa. Selain Sunan Kalijaga, Sunan Bonang juga berperan dalam menanamkan nilai pentingnya saling memaafkan setelah Ramadan. Nilai tersebut kemudian menyatu dengan budaya lokal dan membentuk tradisi Kupatan yang dikenal hingga kini.

Budayawan Atmo Tan Sidik menyebut tradisi menyantap ketupat saat Lebaran telah ada sejak masa Sunan Kalijaga.

Ia menegaskan bahwa tradisi serupa juga berkembang di sejumlah negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, dan Thailand Selatan, yang menunjukkan luasnya pengaruh budaya Nusantara.

Baca Juga: Operasi Ketupat 2026 Tekan Kecelakaan, Rekayasa Lalu Lintas Dinilai Efektif

Dalam filosofi Jawa, “kupat” atau ketupat memiliki makna mendalam. Istilah ini berasal dari frasa “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan. Anyaman janur yang rumit menggambarkan kompleksitas kesalahan manusia, sementara nasi putih di dalamnya melambangkan hati yang kembali bersih setelah saling memaafkan. 

Janur berwarna kuning juga dipercaya sebagai simbol penolak bala, sekaligus mencerminkan budaya pesisir yang lekat dengan pohon kelapa.

Pelaksanaan Lebaran Ketupat biasanya dilakukan setelah umat Islam menyelesaikan puasa sunah enam hari di bulan Syawal. Masyarakat berkumpul di masjid atau musala untuk berdoa bersama, membaca tahlil, serta mempererat silaturahmi.

Ketupat disajikan bersama opor ayam dan sambal goreng. Santan dalam opor dimaknai sebagai “pangapunten” atau permohonan maaf dalam bahasa Jawa.

Baca Juga: Trump Pertimbangkan Tambah Pasukan AS ke Timur Tengah di Tengah Konflik Iran

Di sejumlah daerah, tradisi ini berkembang dengan kekhasan masing-masing. Di Desa Durenan, Trenggalek, Jawa Timur, perayaan Kupatan Durenan digelar pada hari kedelapan Syawal. Tradisi tersebut diprakarsai oleh KH Imam Mahyin dari Pondok Pesantren Babul Ulum pada abad ke-19.

Sementara di Lamongan, Festival Kupatan Tanjung Kodok menghadirkan pawai gunungan ketupat serta pertunjukan budaya yang menarik perhatian masyarakat.

Editor : Bayu Shaputra
#Lebaran Ketupat #Budaya Jawa #wali songo #sunan kalijaga