RADARSITUBONDO.ID - Penyanyi sekaligus rapper Ravi akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada publik setelah menuntaskan kewajiban militernya.
Pernyataan tersebut diunggah langsung melalui akun Instagram pribadinya pada 27 Maret 2026, menandai kali pertama ia berbicara panjang sejak kasus yang menjeratnya mencuat.
Dalam unggahan tersebut, Ravi secara jujur mengakui kesalahan yang pernah ia lakukan pada tahun 2022, yakni upaya untuk menghindari wajib militer. Ia menyadari bahwa tindakannya saat itu tidak hanya keliru, tetapi juga berdampak luas terhadap banyak pihak, termasuk penggemar dan masyarakat.
Ia mengungkapkan rasa malu saat mengenang masa tersebut, terutama karena sempat menggunakan alasan pribadi demi mendapatkan pemakluman publik. Kini, setelah melalui berbagai proses hukum dan menjalani kewajiban yang diberikan, Ravi mengaku mulai memahami konsekuensi dari tindakannya.
Baca Juga: Manchester City Cemas, Kondisi Foden Dipantau Usai di Tekel Keras Araujo
"Saya menyadari bahwa pilihan menusuk dapat menyebabkan luka dan kerugian bagi orang lain," tulisnya dengan perasaan malu.
Sebelumnya, pengadilan telah menjatuhkan hukuman berupa satu tahun penjara kepada Ravi. Namun, hukuman tersebut tidak dijalankan secara langsung karena diganti dengan masa percobaan selama dua tahun. Selain itu, ia juga diwajibkan menjalani 120 jam pelayanan masyarakat sebagai bagian dari konsekuensi hukum.
Meski tidak harus menjalani hukuman penjara secara fisik, Ravi tetap diwajibkan menyelesaikan sisa tugasnya sebagai pekerja layanan sosial. Proses tersebut berjalan hingga akhirnya ia dinyatakan rampung menyelesaikan kewajiban militernya pada Desember 2025.
Melalui surat permintaan maaf yang ia bagikan, Ravi kembali menegaskan penyesalannya dan menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pihak yang terdampak akibat perbuatannya.
Ia juga berkomitmen untuk terus belajar dari kesalahan dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik di masa mendatang.
Namun demikian, respons masyarakat terhadap permintaan maaf tersebut masih terbilang dingin. Tidak sedikit yang menilai bahwa kepercayaan publik terhadapnya belum sepenuhnya pulih, meskipun ia telah menjalani seluruh proses hukum dan kewajiban yang diberikan.
Kasus ini sendiri bermula dari tuduhan bahwa Ravi menggunakan diagnosis medis palsu dengan berpura-pura mengidap epilepsi. Tujuannya adalah untuk mendapatkan penugasan alternatif dalam wajib militer.
Dugaan tersebut kemudian memicu kemarahan publik di Korea Selatan, mengingat isu wajib militer merupakan hal sensitif dan berkaitan dengan kewajiban warga negara.
Editor : Bayu Shaputra