Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Menyebar, Dokter Tirta Bagikan Cara Aman Lindungi Pernapasan

Titin Wulandari • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 10:05 WIB
TIPS dan TRIK : Dokter Tirta membagikan cara aman menghadapi abu dan melindungi pernapasan.(Instagram:@dr.tirta)
TIPS dan TRIK : Dokter Tirta membagikan cara aman menghadapi abu dan melindungi pernapasan.(Instagram:@dr.tirta)

 

Radarsitubondo.id - Hujan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai dirasakan masyarakat di kawasan pesisir Kabupaten Serang, Banten, sejak Sabtu (5/9) malam. Pada Minggu pagi, sebaran abu dilaporkan meluas hingga sejumlah wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat.

Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap risiko gangguan pernapasan akibat partikel abu yang terbawa udara.

Dokter sekaligus edukator kesehatan Tirta Mandira Hudhi membagikan sejumlah langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi paparan abu vulkanik, khususnya ketika harus beraktivitas di luar rumah.

Baca Juga: Trump Naikkan Tarif Drone Asing hingga 100 Persen, Produk China Jadi Sasaran Utama

Tirta mengingatkan masyarakat tetap menggunakan masker ketika berada di luar ruangan. Menurutnya, lapisan abu yang terlihat tipis bukan berarti tidak berisiko bagi kesehatan.

Partikel abu vulkanik berukuran sangat kecil dan dapat terhirup ketika seseorang berada di lingkungan yang telah terpapar abu. Paparan berulang disebut dapat memicu reaksi alergi hingga mengganggu saluran pernapasan bagian atas.

Imbauan tersebut juga didasarkan pada pengalaman Tirta ketika menghadapi dampak abu dari erupsi Gunung Kelud dan Gunung Merapi.

Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak menunggu kondisi menjadi parah sebelum mengambil langkah perlindungan.

Baca Juga: Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Menyebar, Warga Tangerang Serbu Masker hingga Antre Mengular

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah cara membersihkan abu vulkanik yang menempel di sekitar rumah.

Tirta menyarankan masyarakat tidak menyapu abu dalam kondisi kering. Aktivitas tersebut justru dapat membuat partikel abu kembali beterbangan ke udara sehingga berpotensi lebih mudah terhirup.

Sebagai alternatif, abu dapat dibersihkan menggunakan air. Penyiraman dapat dilakukan pada halaman maupun permukaan rumah sehingga partikel abu tidak mudah kembali beterbangan.

Cara tersebut dinilai lebih aman dibandingkan membersihkan abu dengan metode yang membuat debu kembali berhamburan.

Masyarakat yang memiliki kebiasaan berolahraga di luar ruangan juga disarankan menyesuaikan aktivitas selama abu vulkanik masih menyelimuti wilayah tempat tinggal.

Baca Juga: Likuiditas Aman, Kredit Ngebut: BRI Bukukan Laba Rp31,2 Triliun

Untuk sementara, olahraga dapat dialihkan ke dalam ruangan guna mengurangi paparan partikel abu yang berada di udara.

Namun, bagi masyarakat yang tetap harus melakukan aktivitas fisik di luar ruangan, penggunaan masker yang memadai menjadi hal penting untuk membantu mengurangi jumlah partikel abu yang terhirup.

Sebaran abu vulkanik dapat berubah mengikuti kondisi angin sehingga masyarakat perlu memperhatikan perkembangan informasi dari pihak berwenang.

Baca Juga: Raditya Dika Tertahan di Doha, Pesawat Putar Balik Gegara Erupsi Anak Krakatau

Selain menggunakan masker, mengurangi aktivitas di luar ruangan, dan membersihkan abu dengan air, masyarakat juga perlu menjaga kondisi lingkungan tempat tinggal agar paparan abu dapat diminimalkan.

Dengan langkah pencegahan yang tepat, risiko gangguan pernapasan akibat paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau dapat ditekan, terutama bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak.(*)

Editor : Titin Wulandari
Gunung Anak Krakatau abu vulkanik hujan abu Serang Dokter Tirta