Hubungan Orang Tua dan Anak Dewasa Mulai Renggang? Ini Cara Membangunnya Kembali

Bayu Shaputra • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 10:05 WIB
Ilustrasi hubungan antara anak dan orang tua ulai renggang. (AI)
Ilustrasi hubungan antara anak dan orang tua ulai renggang. (AI)

 

RADARSITUBONDO.ID - Hubungan orang tua dan anak tidak selalu berjalan dekat sepanjang kehidupan.

Ketika anak mulai memasuki usia dewasa, jarak di antara keduanya bisa muncul karena perbedaan pandangan, pengalaman masa lalu, hingga persoalan yang belum pernah benar-benar diselesaikan.

Situasi tersebut kerap menjadi persoalan yang berat bagi orang tua. Terlebih ketika perubahan sikap anak membuat komunikasi yang sebelumnya mudah dilakukan menjadi semakin terbatas.

Baca Juga: Gara-Gara Abu Vulkanik, Harga Masker Mendadak Meledak Naik 2 Kali Lipat!

Namun, hubungan yang renggang bukan berarti tidak memiliki jalan untuk diperbaiki. Selama masih terdapat kesempatan untuk berkomunikasi, orang tua dan anak tetap memiliki ruang untuk membangun kembali kepercayaan.

Memperbaiki hubungan dengan anak yang sudah dewasa juga membutuhkan pendekatan yang berbeda. Orang tua tidak bisa selalu berharap anak segera memberikan respons positif setelah sebuah permintaan maaf atau ajakan untuk kembali dekat.

Dalam kondisi seperti ini, perubahan justru perlu diperlihatkan melalui sikap dan tindakan yang konsisten. Proses tersebut membutuhkan kesabaran karena luka atau kekecewaan yang berlangsung lama tidak selalu dapat hilang dalam waktu singkat.

Dilansir dari Geediting, terdapat lima langkah yang dapat dilakukan orang tua untuk mencoba membangun kembali hubungan dengan anak yang telah dewasa.

Baca Juga: Bikin Melongo! Ustaz Riza Muhammad Ungkap Punya 50 Pekerja di Rumah, 30 Orang Jadi ART

Berani Mengakui Kesalahan

Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah berani melihat kembali kesalahan yang mungkin pernah dilakukan dalam hubungan dengan anak.

Meminta maaf bukan perkara mudah bagi sebagian orang tua. Terlebih ketika mereka merasa memiliki alasan tertentu di balik keputusan atau tindakan yang pernah dilakukan.

Namun, bagi anak, pengakuan dari orang tua bahwa tindakan tersebut pernah membuat mereka terluka dapat memiliki arti yang besar.

Orang tua tidak harus memberikan penjelasan panjang untuk membenarkan diri. Permintaan maaf sederhana yang disertai penyesalan dan kesediaan bertanggung jawab justru dapat menjadi awal dari komunikasi yang lebih terbuka.

Mengakui kesalahan juga tidak berarti orang tua kehilangan wibawa. Sebaliknya, keberanian tersebut dapat menunjukkan kedewasaan sekaligus keterbukaan untuk memperbaiki hubungan yang selama ini mengalami masalah.

Baca Juga: Harry Kane Masuk Kandidat Ballon d’Or 2026, 73 Gol Bikin Pede Kejar Penghargaan

Dengarkan Cerita Anak Tanpa Terburu-buru Membela Diri

Hubungan yang telah lama renggang biasanya menyimpan banyak hal yang belum tersampaikan. Anak mungkin memiliki pengalaman atau perasaan yang selama ini memilih untuk dipendam.

Ketika anak akhirnya bersedia membuka cerita, orang tua perlu memberikan ruang agar mereka dapat menyampaikan semuanya tanpa buru-buru dipotong.

Keinginan untuk langsung menjelaskan alasan di balik tindakan masa lalu sebaiknya ditahan terlebih dahulu. Menyangkal pengalaman anak atau berusaha membuktikan bahwa keputusan orang tua saat itu benar justru dapat membuat percakapan kembali buntu.

Ucapan seperti “Ayah atau Ibu melakukan itu demi kebaikanmu” mungkin dimaksudkan sebagai bentuk penjelasan. Namun, kalimat tersebut belum tentu membuat anak merasa bahwa pengalaman dan perasaannya benar-benar dipahami.

Karena itu, mendengarkan dapat menjadi bagian penting dalam proses memperbaiki hubungan. Memahami sudut pandang anak bukan berarti orang tua harus menyetujui seluruh pendapatnya.

Hal terpenting adalah menunjukkan bahwa perasaan dan pengalaman anak tetap dianggap penting. Sikap tersebut dapat membuka ruang bagi komunikasi yang lebih sehat di kemudian hari.

Baca Juga: Tiga Bulan Tak Pulang, Siswi Selomukti Diduga Dibawa Lari Mantan Tunangan

Jangan Memaksakan Kedekatan

Keinginan untuk segera kembali dekat dengan anak merupakan hal yang wajar. Namun, hubungan yang telah lama mengalami masalah tidak bisa selalu dipulihkan hanya melalui satu kali pertemuan atau sebuah permintaan maaf.

Orang tua perlu memahami bahwa proses membangun kembali kepercayaan membutuhkan waktu. Langkah kecil justru dapat menjadi awal yang lebih realistis.

Komunikasi dapat dimulai dengan hal sederhana, seperti menanyakan kabar, mengirim pesan singkat, atau mengajak anak bertemu dalam suasana santai.

Meski begitu, anak tetap perlu diberi kesempatan untuk menentukan sejauh mana mereka ingin berkomunikasi. Ketika respons yang diberikan masih terasa dingin atau terbatas, kondisi tersebut tidak selalu berarti usaha orang tua gagal.

Kepercayaan biasanya terbentuk melalui pengalaman positif yang terjadi secara berulang. Karena itu, konsistensi dalam menunjukkan perubahan menjadi lebih penting dibandingkan sekadar janji untuk berubah.

Orang tua tidak perlu terus-menerus menuntut kedekatan. Memberikan ruang sambil tetap menunjukkan perhatian dapat membuat anak memiliki kesempatan untuk kembali merasa nyaman dalam hubungan tersebut.

Baca Juga: Tak Kunjung Dapat Anggaran, Tiga Ruang SDN 3 Wonokoyo Terbengkalai Bertahun-tahun

Hormati Batasan yang Dibuat Anak

Memasuki usia dewasa, anak memiliki kehidupan dan ruang pribadi yang semakin luas. Mereka juga memiliki hak untuk menentukan keputusan serta batasan dalam hubungan dengan orang lain, termasuk dengan orang tua.

Batasan tersebut perlu dihormati, terutama ketika anak masih membutuhkan jarak dari persoalan yang pernah terjadi.

Jika anak belum siap membicarakan masalah tertentu, orang tua sebaiknya tidak memaksanya. Begitu pula ketika anak membutuhkan waktu sebelum kembali bertemu atau membahas pengalaman masa lalu.

Memberikan ruang bukan berarti orang tua menyerah untuk memperbaiki hubungan. Justru, sikap tersebut dapat menjadi tanda bahwa orang tua mulai memahami kebutuhan anak sebagai individu yang telah dewasa.

Ketika batasan pribadi dihargai, anak dapat merasa lebih aman dalam menentukan bentuk komunikasi yang mereka inginkan. Dari sana, hubungan berpeluang berkembang secara perlahan tanpa tekanan.

Proses membangun kembali kedekatan juga tidak harus selalu dimulai dengan pembicaraan besar mengenai konflik masa lalu.

Dalam beberapa kondisi, komunikasi sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi fondasi untuk memperbaiki hubungan.

Baca Juga: Gagal Bayar Angsuran, Dua Jamaah Umrah PCNU Situbondo Terima SP 1 BPR Anis

Buktikan Perhatian Melalui Perbuatan

Permintaan maaf akan memiliki makna yang lebih kuat ketika diikuti perubahan dalam perilaku sehari-hari.

Perhatian kepada anak tidak harus selalu diwujudkan melalui pemberian materi atau tindakan besar.

Hal-hal sederhana seperti mengingat hari ulang tahun, menanyakan kabar, bersedia mendengarkan ketika anak membutuhkan teman berbicara, hingga menghormati keputusan mereka dapat menjadi bentuk perhatian.

Yang tidak kalah penting, perhatian tersebut sebaiknya tidak dijadikan alat untuk menuntut balasan dari anak.

Kebaikan yang diberikan bukan untuk membuat anak merasa memiliki utang kepada orang tua.

Tujuannya adalah menunjukkan bahwa hubungan tersebut masih memiliki tempat penting dan bahwa orang tua benar-benar berusaha membangun pola hubungan yang lebih baik.

Editor : Bayu Shaputra
Sumber : berbagai sumber
Hubungan anak renggang komunikasi orang tua