Kisah Nyata TKW Singapura Mendadak Kaya, Dapat Warisan 40 Miliar dan Apartemen Mewah

Agung Sedana • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 12:37 WIB
Cerita TKW asal Filipina yang bekerja di Singapura, mendapatkan warisan 40 miliar. (Ilustrasi)
Cerita TKW asal Filipina yang bekerja di Singapura, mendapatkan warisan 40 miliar. (Ilustrasi)

RADARSITUBONDO.ID - Seorang pekerja rumah tangga (PRT) asal Filipina bernama samaran Christine menjadi perhatian di Singapura setelah menerima warisan senilai 6 juta dolar Singapura, termasuk sebuah apartemen mewah, dari majikannya yang meninggal dunia pada 2009.

Warisan tersebut diberikan oleh Quek Kai Miew, seorang dokter sekaligus filantropis Singapura. Christine telah bekerja untuk Quek dan keluarganya sejak 1986, termasuk merawat ibu sang dokter hingga meninggal dunia.

Kisah Christine diberitakan The Straits Times pada 21 Juli 2010 dan kemudian dikutip berbagai media internasional. Saat itu, Christine berusia 47 tahun dan masih berstatus lajang. Ia memilih menggunakan nama samaran karena alasan keamanan.

Baca Juga: 11 Tahun Merawat Majikan di Hong Kong, TKW Ini Dapat Warisan 14 Miliar

Nilai warisan yang diberitakan mencapai sekitar 6 juta dolar Singapura, atau pada nilai tukar 2010 sekitar Rp40 miliar lebih. Namun, angka tersebut perlu dipahami dengan hati-hati karena sumber-sumber sekunder pada masa itu tidak selalu menuliskan nilainya secara konsisten. Yang jelas, laporan utama menyebut warisan tersebut mencakup uang tunai dan apartemen mewah di kawasan Leonie Hill, dekat pusat perbelanjaan Orchard Road.

Bagi Christine, nilai harta tersebut bukan alasan utama dirinya merasa beruntung.

"Saya adalah PRT paling beruntung di Singapura, dengan atau tanpa uang tersebut."

Pernyataan itu disampaikan Christine kepada The Straits Times dalam wawancara yang kemudian dikutip sejumlah media.

Bekerja sejak 1986 dan merawat ibu majikan

Christine pertama kali datang ke Singapura pada 1986 untuk bekerja sebagai pekerja rumah tangga bagi Quek Kai Miew, seorang dokter umum.

Pekerjaannya tidak hanya mencakup urusan rumah tangga. Christine juga merawat ibu Quek yang sedang sakit hingga perempuan tersebut meninggal dunia sekitar tiga tahun kemudian. Setelah itu, Christine terus mendampingi Quek selama bertahun-tahun.

Hubungan keduanya kemudian menjadi sangat dekat. Christine mengatakan dirinya hampir selalu berada di sisi Quek dan menemaninya ketika bepergian.

"Saya selalu berada di sampingnya. Ke mana pun dia pergi, saya bersamanya."

Lebih dari dua dekade bekerja bersama membuat hubungan keduanya tidak lagi sekadar hubungan antara majikan dan pekerja.

Ketika Quek meninggal dunia pada 2009 dalam usia 66 tahun, Christine mengalami kesedihan yang mendalam. Ia bahkan untuk sementara tinggal bersama keponakan Quek karena tidak sanggup menghadapi masa berduka seorang diri.

Christine mengatakan dirinya merasa sangat terpukul karena telah menghabiskan lebih banyak waktu bersama Quek dibandingkan dengan ibunya sendiri.

Sudah mengetahui dirinya menjadi penerima warisan

Christine sebenarnya sudah mengetahui bahwa dirinya akan mendapatkan bagian dari harta peninggalan Quek.

Ketika Quek menyusun surat wasiat pada 2008, sekitar setahun sebelum kematiannya, sang dokter telah memberi tahu Christine bahwa dirinya akan menjadi salah satu penerima warisan.

Karena itu, Christine mengaku tidak terkejut ketika mengetahui besarnya aset yang akan diterimanya.

"Tidak ada rahasia di antara kami. Saya sama sekali tidak terkejut ketika dia memberi tahu berapa banyak yang akan saya dapatkan."

Dalam laporan yang mengutip The Straits Times, harta yang diterima Christine disebut berupa uang tunai dan apartemen mewah di Leonie Hill, kawasan yang berada tidak jauh dari Orchard Road.

Warisan 6 juta dolar Singapura termasuk apartemen

Ada satu bagian yang perlu diperjelas dari sejumlah pemberitaan ulang mengenai kisah Christine.

Angka 6 juta dolar Singapura sebaiknya tidak dipahami sebagai uang tunai Rp40 miliar ditambah apartemen dengan nilai terpisah. Laporan yang mengutip The Straits Times menyebut Christine menerima warisan sekitar 6 juta dolar Singapura dari harta peninggalan Quek, termasuk apartemen di Leonie Hill.

Dengan demikian, lebih aman menyebut nilai tersebut sebagai total warisan yang diberitakan, bukan menjumlahkan 6 juta dolar Singapura dengan harga apartemen sekali lagi.

Pada 2010, sejumlah media Indonesia mengonversi nilai tersebut menjadi sekitar Rp40 miliar hingga Rp41,5 miliar. Nilai rupiah tersebut merupakan konversi berdasarkan kurs pada periode pemberitaan dan bukan nilai rupiah yang tercantum dalam surat wasiat.

Kekayaan tidak mengubah kehidupan Christine

Setelah menjadi penerima warisan dalam jumlah besar, Christine mengatakan dirinya tidak berniat mengubah gaya hidup.

Dalam wawancara tersebut, ia tetap menggambarkan dirinya sebagai orang yang menjalani kehidupan seperti sebelumnya. Ia juga tidak merasa perlu menunjukkan kekayaan yang baru diperolehnya.

"Saya tidak terlalu memikirkan uang yang saya dapatkan. Saya hanya menjalani hidup seperti sebelumnya, bukan sebagai orang kaya."

Christine juga mengatakan dirinya tetap menjadi orang yang sama meskipun kini memiliki uang dalam jumlah besar. Teman-temannya sesama pekerja rumah tangga asal Filipina di Singapura juga tetap memperlakukannya seperti sebelumnya.

Saat diwawancarai, Christine digambarkan mengenakan pakaian sederhana berupa blus dan celana panjang dengan rambut pendek.

Menyembunyikan identitas demi keamanan

Ada alasan khusus mengapa media hanya menggunakan nama Christine.

Perempuan tersebut menolak mengungkapkan nama lengkapnya karena khawatir kekayaan yang diterimanya dapat membahayakan dirinya maupun keluarganya di Filipina.

Pada saat itu, pemberitaan media menyebut kekhawatiran mengenai penculikan terhadap orang kaya di Filipina menjadi salah satu alasan Christine menjaga identitasnya. Ia juga disebut tengah mengajukan permohonan untuk mendapatkan status penduduk tetap Singapura.

Keputusan menggunakan nama samaran membuat informasi mengenai identitas asli Christine tetap terbatas dalam pemberitaan yang tersedia.

Terjadi di tengah besarnya jumlah PRT migran di Singapura

Kisah Christine berlangsung ketika pekerja rumah tangga migran menjadi bagian penting dari kehidupan keluarga di Singapura.

Laporan AFP yang dikutip sejumlah media pada Juli 2010 menyebut hampir 200.000 pekerja rumah tangga asing, terutama dari Filipina dan Indonesia, bekerja di Singapura.

Di tengah jumlah pekerja migran yang besar tersebut, kasus Christine menjadi tidak biasa karena hubungan kerja yang berlangsung selama lebih dari dua dekade berujung pada pemberian warisan dalam jumlah sangat besar.

Namun, dari pernyataan Christine sendiri, nilai finansial tersebut bukan bagian yang paling ia tekankan. Ia justru berkali-kali menggambarkan kedekatannya dengan Quek dan mengatakan bahwa uang tersebut tidak mengubah cara dirinya menjalani kehidupan.

Editor : Agung Sedana
tkw singapura