RadarSitubondo.id – Havid Nur Yasin tampak semangat. Wajahnya semringah usai mengikuti bimbingan manasik haji di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Srono, Banyuwangi, Selasa (14/5) lalu.
Remaja berusia 19 tahun ini, akan berangkat ke Tanah Suci Makah untuk menunaikan rukun Islam kelima mendampingi ibu kandungnya, Siti Akmaliyah, 50.
Lelaki kelahiran Banyuwangi 2005 dari pasangan almarhum Yahdi, 50, dan Siti Akmaliyah, 50, yang tinggal di Dusun Srono, Desa Kebaman, Kecamatan Srono, ini tak pernah menyangka akan menunaikan rukun Islam kelima diusia muda.
“Saya tidak pernah terbayang bisa pergi naik haji ke tanah suci Makkah dan Madinah,” kata Havid Nur Yasin.
Sebagai anak kedua dari dua bersaudara, Havid yang baru lulus MAN 3 Banyuwangi pada 2023 lalu itu, selama ini selain belajar, hanya membantu tugas orang tua di rumah.
Ia diberitahu ibunya berangkat ke tanah suci enam bulan lalu untuk menggantikan sang ayah yang meninggal pada 31 Mei 2023. “Saya menggantikan orang tua (ayah),” ujarnya.
Setelah diberitahu ibunya menggantikan sang ayah untuk berangkat haji, Havid mengurus persyaratan ke Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Banyuwangi.
Hingga akhirnya, bisa berangkat mendampingi sang ibu, Siti Akmaliyah.
“Sangat bersyukur bisa berangkat ke Baitullah untuk menunaikan ibadah haji bersama orang tua,” cetusnya dengan mata berkaca-kaca.
Karena masih muda, setiap ada pelaksanaan bimbingan manasik haji, Havid selau datang bersama sang ibu.
Itu dilakukan agar saat berada di tanah haram tidak keliru dalam melaksanakan ibadah.
“Meski ada pembimbingnya, tapi syarat dan rukunya juga harus betul. Maka saya terus mengikuti bimbingan dan praktik manasik. Termasuk jika ada informasi penting dari petugas,” jelas adik kandung Ahmad Fathurohman, 30, itu.
Orang tua Hafid bisa berangkat haji ini, melalui proses yang lama dan penuh perjuangan.
Ibu Havid, Siti Akmaliyah mengaku bersama mendiang suaminya Yahdi sudah lama berniat untuk menunaikan rukun Islam kelima bersama dengan menabung.
“Saya dan almarhum suami jualan nasi goreng,” kata Siti Akmaliyah.
Akmaliyah mengaku bukan penjual nasi goreng besar. Selama ini jualan sebagai pedagang kaki lima (PKL) yang mangkal di utara Masjid Besar Almuttaqin, Desa Kebaman, Kecamatan Srono.
Dari hasil jualan nasi goreng itu, uangnya ditabung dan pada 2011 daftar haji.
“Alhamdulillah, setelah menunggu 13 tahun, doa kami dikabulkan untuk melengkapi rukun Islam,” terangnya.
Setiap hari usai salat, Akmaliyah tak lupa berdoa agar bisa segera dipanggil menjadi tamu Allah.
Sebagian dari pendapatan jualan nasi goreng, ditabung untuk biaya haji. “Saya tiap hari menabung biar bisa berangkat haji,” katanya.
Usaha yang dijalani Akmaliyah membuahkan hasil yang baik. Doa dan kerja kerasnya, ternyata dikabulkan oleh Allah, sehingga tahun ini bias berangkat haji.
“Alhamdulillah, diberikan rezeki yang berlimpah, mohon doanya semoga kami sekeluarga sehat bisa menunaikan ibadah haji ke tanah suci,” pungkasnya. (ddy/abi)
Editor : Ali Sodiqin