RadarSitubondo.id – Kegigihan Atimah dan suami untuk bisa naik haji mungkin bisa ditiru. Setiap harinya pasangan suami-istri asal Desa Bantal, Kecamatan Asembagus, Situbondo, ini bekerja sebagai buruh kolpat.
Hasilnya, ditabung hingga akhirnya cukup untuk menunaikan rukun Islam kelima tersebut.
Atimah dan suaminya harus menabung dalam waktu yang tidak sebentar. Dia mendisplinkan diri menyimpan uangnya selama sepuluh tahun.
Yang menarik, uang yang dikumpulkan itu berasal dari pekerjaannya sebagai buruh kolpat tebu saat panen tebu di Kecamatan Asembagus.
"Hasil kita berdua kolpat tebu sehari dapat Rp 40 ribu. Uang itu tidak digunakan semua, paling tidak Rp 20 ribu disimpan. Sisanya baru di buat belanja untuk makan dan lainnya," ujarnya.
Atimah mengaku, kebiasaan tersebut dilakukan rutin setiap hari. Meski uang yang dibawa pulang tidak besar, namun dia mewajibkan bisa menabung.
Beruntung, Atimah dan suaminya memiliki prinsip yang sama. Keduanya memenuhi kebutuhan hidup cukup seadanya.
"Lebih mengutamakan nabung dari pada mengutamakan makan kita sehari-hari. Karena saya niat mau naik haji. Soal makan yang penting kenyang," ungkapnya.
Lebih lanjut, Atima menyampaikan, uang yang sudah terkumpul dipakai untuk mendaftar haji.
Namun buka untuk dirinya saja, melainkan bersama sang suami. "Suami juga berangkat haji tahun ini," ucap dia sambil tersenyum.
Sementara itu, Kepala Desa Bantal, Sahijo mengaku sangat kagum dengan ibu Atima dan suami. Sebab, mereka mampu menunaikan ibadah haji. Itu berkat kegigihan dan niat baiknya.
"Ibu ini memang gigih bekerja dan menjadi bagian pekerja saya juga untuk kolpat tebu, membersihkan daun tebu," pungkasnya. (wan/pri)
Editor : Ali Sodiqin