RadarSitubondo.id – KHR As'ad Syamsul Arifin terlibat langsung dalam perjuangan merebut kemerdekaan Republik Indonesia (RI).
Sebagai ulama besar pada saat itu, KHR As'ad sangat disegani oleh masyarakat Situbondo dan sekitarnya.
Berada di lingkungan pesantren, Kiai As'ad tidak hanya mengajar ilmu agama pada santri-santrinya saja.
Akan tetapi Kiai As'ad ikut dalam perang gerilya melawan penjajah tahun 1945 sampai 1949 silam.
Bahkan ia menjadi bagian dan turut andil dalam resolusi jihad untuk melawan penjajah.
Dilansir NU Online, KHR As'ad sendiri bahkan bertahun-tahun ikut serta turun melakukan gerilya.
Dalam perang gerilya itu, KHR As'ad juga memimpin perampasan senjata milik Belanda dimana gudang senjata itu berada di Kabupaten Bondowoso.
Perampasan senjata tersebut dilakukan sekitar bulan Juli tahun 1947 silam.
Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo tersebut juga mengirim pasukan Sabilillah.
Pasukan ini sendiri terdiri pasukan dari Situbondo dan Bondowoso. Mereka dikirim ke Tanjung Perak.
Pasukan Sabilillah terlibat pertempuran hebat di Jembatan Merah Surabaya.
Dedikasi dan perjuangannya yang besar pada bangsa, membuat Presiden Jokowi menganugerahi gelar pahlawan pada KHR As'ad Syamsul Arifin pada tahun 2016 lalu. (*)
Editor : Ali Sodiqin