RadarSitubondo.id - Sebanyak 19 (Anak Buah Kapal) lari ke Situbondo diduga setelah mengalami eksploitasi kerja.
Mereka awalnya bekerja di KM Arif Wijaya Sejati, sebuah kapal motor pencari ikan. Sebanyak 19 orang tersebut mereka berasal dari Surabaya, Jakarta dan Bogor.
Diketahui, awal peristiwa tersebut terjadi pada 23 Juni 2024. Dimana 19 orang tersebut ikut KM Arif Wijaya Sejati untuk berlayar dari Kecamatan Juwana Kabupaten Pati, Jawa Tengah yang akan bekerja mencari Ikan tanpa perjanjian kerja laut dengan tujuan Perairan Selat Madura.
Kemudian pada 20 Agustus 2024, KM Arif Wijaya Sejati sedang sandar Pelabuhan Talango Air Kecamatan Raas Kabupaten Sumenep.
19 orang ABK tersebut hendak turun dari kapal dan pulang ke kampung halaman dikarenakan ada faktor ketidakcocokan dengan ABK yang lama dan juga masalah pemberian upah kerja yang tidak sesuai.
Pada tanggal 23 Agustus 2024 sekitar pukul 14.00 WIB dari Pelabuhan Raas Madura 19 orang ABK berangkat menuju Pelabuhan Jangkar Kabupaten Situbondo menggunakan KMP Wicitra Dharma 1.
"Kami menerima laporan adanya 19 ABK yang turun di Pelabuhan Jangkar diduga mengalami eksploitasi saat ikut sebuah kapal tanpa perjanjian kontrak saat bekerja mencari ikan. Para ABK juga menerangkan selama bekerja mulai Juni–Agustus hanya menerima upah Rp500 ribu sampai Rp700 ribu padahal menurut pengakuan mereka sudah mendapatkan ikan sekitar 70 ton. Karena faktor ketidakcocokan ini 19 ABK tersebut memutuskan untuk pulang,” kata Kasatpolairud Polres Situbondo, AKP Gede Sukarmadiyasa, Minggu (25/8/2024).
Selanjutnya, Satpolairud melakukan koordinasi dengan Dinas Sosial (Dinsos) Situbondo untuk pendataan dan memulangkan ABK tersebut ke tempat asalnya masing-masing.
“Kami juga memberikan pembinaan kepada para ABK dan juga imbauan kepada nelayan agar waspada apabila terdapat perusahaan penangkap ikan yang mengajak untuk bekerja, pastikan terlebih dahulu kontrak kerjanya dan perizinan dari perusahaan tersebut, karena ada beberapa kejadian perbudakan atau eksploitasi ABK yang dilakukan oleh kapal nelayan asing maupun lokal,” pungkas Gede. (*)
Editor : Ali Sodiqin