RadarSitubondo.id – Siswa-siswi Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nurul Anshor, Kelurahan Mimbaan, Kecamatan Kota, Situbondo, sekaligus gurunya mendapat suguhan hiburan menarik, Selasa (29/10).
Mereka diperkenalkan dengan uang kertas kuno yang dicetak pada tahun 1946 hingga cetakan uang terkini.
Acara pengenalan uang kuno di halaman SDIT langsung diserbu siswa. Apalagi saat seorang kolektor mengeluarkan uang kuno, para siswa langsung berebut tempat agar bisa ada di posisi paling depan.
Mereka saling dorong karena penasaran ingin melihat dari dekat uang-uang yang sudah tidak dicetak lagi itu.
Salah satunya uang kertas satu rupiah, uang kertas Rp 500 yang bergambar kera, serta uang Rp 10 ribu bergambar alat musik tradisional.
“Uangnya lucu-lucu, saya baru tahu ada uang satu rupiah setelah melihat dari tangan om kolektor uang. Saya jadi ingin punya uang-uang kuno juga,” kata Bintang Rehan, salah siswa SDIT.
Rehan mengaku gembira. Sebab, dengan pengenalan uang kuno tersebut, dia beserta teman-temannya diajak untuk ikut serta merawat uang. Salah satunya dengan tidak mencorat-coret dan tidak melipat uang, agar tidak cepat rusak.
“Katanya uang yang ada saat ini bisa saja berubah lagi, kalau mau jadi kolektor uang ya harus rajin mengumpulkan uang yang kita miliki saat ini. Simpan satu saja nanti beberapa tahun ke depan pasti jadi barang antik,” katanya.
Kolektor uang kuno, Sudi Wardoyono mengatakan, kehadirannya ke SDIT untuk berbagi pengetahuan kepada anak-anak sekolah. Kebetulan, 30 Oktober merupakan hari uang sedunia.
“Besok (hari ini) merupakan hari uang sedunia. Saya bermaksud memperingati hari uang dengan mengajak siswa mengenal uang-uang kuno,” ungkap warga Desa Kotakan, Kecamatan/Kota Situbondo itu.
Kata Sudi, dengan mengenal uang para siswa bisa diajak untuk mencintai uang sejak dini. Salah satunya tidak suka mencoret uang, apalagi melipat uang kertas. Sebab ketika uang tidak dirawat dengan baik, maka akan cepat rusak.
“Kalau mengoleksi uang juga bisa mengetahui banyak pahlawan, tapi sekarang orang hanya tahu kepada nominal tidak kenal dengan gambar yang ada dalam uang. Itu kan pahlawan semua, ada bung Karno, Pattimura dan lain-lain,” ucap Sudi.
Dia mengaku akan mendatangi sekolah-sekolah untuk mengajak siswa belajar menyayangi uang. Sehingga, kesukaannya terhadap uang-uang kuno bisa mengedukasi banyak orang.
“Mungkin awalnya saya hanya suka mengkoleksi, lambat laun jadi guru jalanan, tidak apa-apa juga,” tutup Sudi sambil tertawa. (hum/pri)
Editor : Ali Sodiqin