radarsitubondo.id - Pelabuhan Gilimanuk, yang terletak di ujung barat Pulau Bali, biasanya sibuk dengan aktivitas lalu lintas kapal penyeberangan yang menghubungkan Bali dengan Jawa.
Bahkan pada Kamis 27 Maret 2025 kemarin, suasana pelabuhan Gilimanuk menjadi lautan kendaraan yang akan menyeberang ke Jawa.
Antrean pun mengular hingga 10 jam sejauh beberapa kilometer hingga hutan pertigaan Cekik akibat akumulasi arus mudik Idul Fitri 2025 dengan hari raya Nyepi.
Namun pantauan radarsitubondo.id pada Jumat sore 28 Maret 2025, menjelang penutupan sementara pelabuhan dalam rangka Hari Raya Nyepi 2025, suasana di Pelabuhan Gilimanuk itu berubah drastis menjadi jauh lebih sepi.
Pemandangan yang biasanya dipenuhi oleh kendaraan, pedagang, dan penumpang yang sibuk beraktivitas, kini berubah menjadi hamparan ruang kosong.
Deru mesin kapal dan suara obrolan para pengunjung tidak lagi terdengar.
Jalanan yang biasanya padat dengan kendaraan menuju pelabuhan kini terlihat lengang, dengan hanya beberapa kendaraan yang tampak perlahan meninggalkan kawasan tersebut.
Angin laut yang sepoi-sepoi bertiup menerpa dermaga, menciptakan suasana yang tenang, hampir seperti melankolis.
Laut yang biasanya sibuk dengan kapal-kapal yang lalu lalang kini tampak lebih tenang. Dengan hanya menyisakan beberapa kapal yang masih berada di dermaga, menunggu saatnya untuk meninggalkan pelabuhan di jam-jam terakhir menjuelang penutupan penyeberangan.
Cahaya matahari sore yang menghangatkan permukaan air menambah nuansa damai di sekitar pelabuhan, seolah-olah pelabuhan ini tengah bersiap untuk beristirahat sejenak.
Suasana yang tadinya bising dan penuh energi kini berganti dengan keheningan yang menggema.
Para calon penumpang mulai mempersiapkan diri untuk memasuki kapal, sekaligus menghormati Hari Raya Nyepi.
Beberapa pedagang sudah mulai mengemasi barang dagangannya, sementara petugas pelabuhan juga tampak sibuk menutup beberapa fasilitas untuk memastikan semuanya siap menghadapi periode hening tersebut.
Heningnya suasana pelabuhan menjelang penutupan karena Nyepi 2025 memberikan kesan mendalam, tentang bagaimana Bali menghargai tradisi dan kesunyian sebagai bagian dari kehidupan mereka. (*)
Editor : Bayu Saksono