radarsitubondo.id - Jalan tol yang seharusnya menjadi simbol kelancaran mobilitas kini menyisakan kekhawatiran.
Dalam beberapa bulan terakhir, serangkaian kecelakaan di Tol Cileunyi–Sumedang–Dawuan (Cisumdawu) mengundang tanya: apa sebenarnya penyebab maraknya insiden di ruas tolsepanjang 61 Km ini?
1. Kontur Jalan yang Ekstrem
Banyak pengemudi tidak menyadari bahwa medan menantang naik turun tajam (terutama ruas Sumedang-Cimalaka) ini, membutuhkan keahlian dan kewaspadaan lebih tinggi.
Banyak sopir terutama kendaraan berat salah perhitungan saat menuruni jalur dengan sudut kemiringan curam.
2. Minimnya Penerangan dan Marka Jalan
Meski merupakan tol baru, sejumlah titik di Tol Cisumdawu dilaporkan memiliki pencahayaan yang kurang optimal, terutama saat malam hari.
Selain itu, beberapa markah jalan sudah mulai memudar, membuat pengemudi kesulitan membaca batas lajur atau arah tikungan saat berkendara malam hari atau saat hujan deras.
3. Faktor Cuaca dan Kabut Tebal
Letak geografis tol yang melintasi pegunungan menyebabkan area ini sering diselimuti kabut tebal, terutama pada dini hari dan pagi hari.
Jarak pandang terbatas memperbesar risiko tabrakan beruntun, terutama bagi pengendara yang tidak menyesuaikan kecepatan saat kondisi visibilitas rendah.
4. Kurangnya Rest Area dan Fasilitas Darurat
Kecelakaan tidak hanya disebabkan faktor teknis kendaraan atau jalan, namun juga kelelahan pengemudi.
Tol Cisumdawu saat ini masih kurang banyak fasilitas rest area yang memadai.
Akibatnya, pengemudi yang lelah terpaksa terus melaju tanpa jeda, meningkatkan potensi microsleep (tertidur sekejap saat mengemudi) yang berakibat fatal.
5. Pelanggaran Batas Kecepatan
Meski sudah ada rambu batas kecepatan, kenyataannya banyak pengguna tol mengabaikan aturan tersebut.
Terlebih pada jalur lurus dan sepi, pengendara cenderung memacu kendaraan melebihi 100 Km per jam.
Ketika tiba-tiba menemui tikungan tajam atau kendaraan lain yang melambat, reaksi spontan kerap menyebabkan kecelakaan.
6. Kurangnya Edukasi Jalur Baru
Minimnya sosialisasi atau informasi tentang zona rawan kecelakaan, titik-titik turunan curam, atau bahaya kabut menjadi penyebab kurangnya kesiapan pengendara dalam menghadapi kondisi lapangan.
Kementerian PUPR bersama pihak pengelola jalan tol berencana melakukan evaluasi menyeluruh terhadap infrastruktur dan penambahan fasilitas keselamatan.
Mulai dari pemasangan lampu penerangan tambahan, peningkatan kualitas marka jalan, hingga penyediaan sistem peringatan dini untuk cuaca ekstrem.
Tol Cisumdawu memang mempercepat mobilitas, tapi kecepatan juga harus dibarengi dengan kesiapan.
Dari kontur jalan hingga disiplin pengguna, semua memiliki peran dalam menciptakan keselamatan, terutama di ruas baru jalan tol Trans Jawa contohnya seperti tol Probowangi (menghubungkan Probolinggo - Banyuwangi).
Jalan tol bukan hanya soal aspal yang mulus, tapi juga tentang kesadaran bersama untuk menjaga nyawa. (*)
Editor : Bayu Saksono