radarsitubondo.id - Proyek jalan tol di Sumatera Barat tak pernah berhenti menghadirkan kisah-kisah unik dari balik pemancangan beton dan perakitan baja jembatan-jembatan ruas jalan tol Padang - Sicincin.
Setiap proyek selalu memiliki tantangan tersendiri, terutama tantangan saat membangun jembatan di atas sungai-sungai khas Minangkabau yang menyimpan keindahan sekaligus misteri geologis.
Pada segmen proyek jalan Tol Padang – Sicincin yang melintasi sungai, pekerja harus berjibaku dengan kondisi alam yang tidak biasa, sungai dengan air yang tampak berwarna hijau berlumut, tenang namun dalam, serta dasar berpasir halus warna hitam.
Karakter sungai seperti ini mungkin saja ada di lokasi proyek jalan tol di Pulau Jawa, misalnya jalan tol Probolinggo-Banyuwangi (Tol Probowangi), namun jarang ditemui di proyek jalan tol lain di Sumatera.
Airnya tenang tapi dasar pasirnya sangat labil.
Warnanya hijau berlumut karena aliran lambat dan kandungan mikroorganisme tinggi, dengan dasar pasir hitam yang merupakan indikasi material vulkanik lama
Permukaan sungai yang tampak jinak ternyata menyimpan tantangan besar di bawahnya.
Tim konstruksi punya tantangan tersendiri saat melakukan pengeboran pondasi jembatan dengan kondisi pasir halus hitam yang mudah ambrol.
Pada sisi lain, vegetasi lumut dan ganggang di permukaan sungai menyebabkan alat-alat berat menghadapi tantangan berupa kelicinan ketika pengangkatan material dan pemasangan rangka jembatan.
Air sungai dengan kandungan endapan organik tinggi juga mempercepat korosi alat, sehingga perawatan rutin harus dilakukan oleh para pelaksana kegiatan.
Dalam menghadapi tantangan ini, tim tidak hanya mengandalkan teknologi, tapi juga kearifan lokal.
Selama konstruksi berlangsung, pemasangan turap penahan air dilakukan dengan sistem kedap untuk menghindari pencemaran ekosistem sungai di sana.
Sementara itu, pasir halus hitam di dasar sungai diperkirakan berasal dari aktivitas vulkanik purba Gunung Talang atau Marapi yang telah lama mengendap di dataran rendah Sumatera Barat. (*)
Editor : Bayu Saksono