radarsitubondo.id - Proyek jalan tol sudah lumrah memiliki banyak jembatan, tidak terkecuali pada jalan tol Probolinggo-Banyuwangi (Probowangi) yang terus berlangsung di Besuki, wilayah Kabupaten Situbondo hari ini.
Tol Probowangi sama seperti proyek tol lain di Indonesia, memaksa pelaksana harus membangun beberapa jembatan.
Nah, dengan kondisi negeri Indonesia yang rawan gempa, konstruksi jembatan pada proyek jalan tol sangat memperhatikan struktur terutama pada bagian pondasi atau fondasinya.
Fondasi jembatan yang dirancang pada jembatan jalan tol, biasanya menggunakan struktur balok persegi berukuran besar di bagian atas.
Kemudian, struktur balok tersebut ditopang oleh deretan kolom silinder beton panjang di bagian bawah.
Bentuk fondasi seperti itu berhasil menciptakan kombinasi kekuatan dan kelenturan yang jarang ditemui sebelumnya.
Ada yang menyebut struktur fondasi jembatan semacam itu sebagai sistem cakar ayam silinder, yang merujuk pada teknik fondasi yang mengakar kuat ke dalam tanah dengan bentuk menyerupai kaki ayam yang mencengkeram.
Bedanya, pada fondasi jembatan jalan tol untuk material yang digunakan berupa elemen kolom silinder beton panjang yang bertugas menyebarkan beban secara merata ke dalam tanah.
Dengan begitu, penyebaran beban yang lebih merata akan berfungsi lebih mampu meredam getaran ketika terjadi gempa bumi.
Struktur pondasi semacam ini merupakan pengembangan dari teknologi fondasi konvensional yang selama ini digunakan di daerah dataran tinggi dan patahan lempeng aktif.
Dengan menggunakan balok beton persegi berukuran besar di sisi atasnya, lalu beban jembatan dapat disalurkan langsung ke kolom-kolom silinder di bawahnya.
Masing-masing kolom bagian terbawah pondasi jembatan itu dirancang memiliki daya lentur dan ketahanan tekan tinggi, sehingga fondasi tetap kokoh meskipun terjadi pergeseran tanah atau guncangan.
Baca Juga: Cukup 4 Jam Saja, Warga Surabaya Bisa Bersantai sambal Ngadem Sepuasnya di Pantai Cemara Banyuwangi
Keunggulan sistem ini tidak hanya terletak pada daya tahannya terhadap gempa, tapi juga pada umur teknis jembatan yang diperkirakan bisa bertahan lebih dari 75 tahun tanpa perlu penguatan besar.
Kolom-kolom silinder yang tertanam dalam formasi cakar ayam memungkinkan distribusi gaya horizontal akibat getaran menjadi lebih seimbang, mengurangi risiko retak struktural.
Dengan kemajuan teknologi fondasi seperti ini, masa depan infrastruktur jalan tol Indonesia diharapkan bisa lebih siap menghadapi tantangan alam, tanpa harus mengorbankan waktu pembangunan. (*)
Editor : Bayu Saksono