radarsitubondo.id– Kondisi cuaca kemarau basah saat ini, menjadi alarm bagi hampir seluruh daerah di Indonesia agar melakukan antisipasi efek kombinasi cuaca ekstrem dan lalu lintas berat pada jalan kelas kabupaten.
Ruas jalan kabupaten yang selama ini kurang mendapatkan perhatian, ternyata memegang peran vital dalam mendukung konektivitas beberapa proyek strategis nasional seperti pembangunan jalan tol.
Apabila tidak diantisipasi sejak awal, pemerintah daerah akan menghadapi beban ganda yakni memperbaiki jalan rusak, sekaligus menanggulangi dampak sosial dan ekonomi akibat ruas jalan masyarakat yang terganggu.
Untuk diketahui, musim kemarau yang biasanya terasa kering, kali ini justru diselingi hujan intensitas sedang hingga tinggi di berbagai wilayah Jawa Timur.
Kondisi cuaca seperti ini juga dirasakan di wilayah Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Situbondo hari ini yang sedang berlangsung proyek pembangunan jalan tol Probolinggo-Banyuwangi (Probowangi).
Seperti diketahui, intensitas lalu lintas truk pendukung proyek jalan Tol Probowangi yang melintasi jalan kabupaten di sekitar Exit Besuki kian meningkat.
Fenomena unik kemarau basah yang terjadi di Juni 2025 ini, ternyata menciptakan efek kelebihan air di lapisan fondasi dasar jalan raya, sedangkan saat hujan reda berganti dengan cepat jadi sengatan panas mentari, sehingga suhu yang drastic berubah itu memperkilat terjadi retakan kecil di aspal.
Oleh sebab itu, ada beberapa langkah konkret yang berpeluang bisa diujicobakan di jalan kelas kabupaten tersebut agar lebih awet sebagai berikut:
- Penggunaan Aspal Modifikasi Polimer (AMP)
Lapisan aspal biasa (konvensional) ternyata cenderung lebih cepat mengalami fatique cracking, terutama ketika ada beban berat dan fluktuasi suhu.
Penggunaan AMP yang dicampur aditif seperti SBS (styrene-butadiene-styrene) diperkirana akan meningkatkan fleksibilitas dan daya tahan aspal terhadap air.
- Drainase Mikro di Bahu Jalan
Saluran air konvensional sering tak cukup menangani air yang meresap dari bawah permukaan aspal.
Sasalah satu solusinya adalah membuat saluran mikro di bahu jalan yang bisa adapat mendukung pembuangan air yang berlebih, serta menjaga stabilitas fondasi bawah jalan.
- Pengaturan Jadwal Lalu Lintas Truk
Dengan kebijakan pengaturan truk proyek yang melintas tersebut, tekanan beban tak terus-menerus menghajar ruas jalan di lokasi yang sama dalam waktu bersamaan.
- Teknologi Cold-in-Place Recycling (CIPR)
Untuk permukaan aspal yang sudah retak, metode perbaikan cepat dengan CIPR bisa diujicobakan.
Recycle tersebut maksudnya tetap memanfaatkan lagi material jalan yang lama secara cepat dan hemat biaya, sehingga perbaikan tetap dilakukan meskipun anggaran terbatas.
- Inspeksi Dini Menggunakan Sensor IoT
Pemanfaatan teknologi sensor untuk mendeteksi perubahan kelembaban dan tekanan di bawah permukaan jalan, sangat mungkin bisa diujicobakan di lapangan.
Meskipun saat ini masih dilakukan dalam koridaor akademis, namun dukungan data tersebut dapat memprediksi titik-titik rawan sebelum terjadinya kerusakan yang lebih besar pada jalan. (*)
Editor : Bayu Saksono