radarsitubondo.id - Fasilitas underpass adalah jembatan tak kasat mata yang menghubungkan pembangunan dan kelestarian, modernitas dan tradisi.
Untuk wilayah Kabupaten Situbondo hari ini, proyek Tol Probolinggo-Banyuwangi (Probowangi) telah menunjukkan, bahwa pembangunan berskala massif ini bisa tetap berpihak pada masyarakat bawah.
Pembangunan jalan Tol Probowangi terus menunjukkan progres signifikan, terutama di wilayah sekitar exit Besuki, Kabupaten Situbondo.
Di tengah laju pesat pembangunan infrastruktur jalan tersebut, rupanya ada satu komponen menarik perhatian warga dan petani setempat, yakni hadirnya underpass di tengah hamparan areal tanaman padi.
Underpass alias terowongan bawah tanah, dalam cakupan proyek jalan tol merupakan struktur yang dibangun pada bawah badan jalan untuk memungkinkan kendaraan, manusia, atau bahkan ternak serta satwa liar untuk melintas tanpa harus memotong arus lalu lintas tol.
Di ruas jalan tol Probowangi, underpass bukan hanya berfungsi teknis, tapi juga sosial dan ekologis.
Berikut beberapa fungsi strategis underpass di wilayah persawahan
1. Menjaga Akses Lahan Pertanian
Pembangunan jalan tol seringkali membelah hamparan sawah produktif yang menjadi sumber utama penghidupan masyarakat setempat.
Underpass menjadi solusi cerdas agar para petani tetap bisa mengakses lahan mereka yang terletak di sisi berlawanan jalan tol tanpa harus memutar jauh.
2. Mendukung Transportasi Lokal
Selain petani, warga lokal yang biasa menggunakan jalur tradisional untuk beraktivitas sehari-hari tetap bisa melintas melalui underpass, termasuk pengendara motor, pejalan kaki, hingga pengangkut hasil panen.
3. Mengurangi Fragmentasi Ekosistem
Underpass juga berfungsi sebagai koridor satwa kecil, seperti musang, biawak, hingga burung liar yang biasa berpindah dari satu area ke area lain.
Hal tersebut urgen untuk menjaga keseimbangan ekosistem lokal yang sempat terganggu akibat pembangunan berskala besar.
4. Antisipasi Banjir dan Irigasi
Di beberapa lokasi, desain underpass disesuaikan untuk tetap mendukung sistem irigasi tradisional yang telah eksis puluhan tahun sebelumnya.
Aliran air dari hulu ke hilir tidak terganggu, mencegah potensi banjir atau kekeringan lahan pertanian.
Sementara itu, underpass di sekitar exit Besuki dirancang mengikuti kontur alam dan kondisi pertanian lokal.
Material konstruksi tahan lama namun tetap memungkinkan terjadinya resapan air.
Beberapa underpass bahkan dilengkapi saluran drainase khusus agar tidak tergenang saat musim hujan.
Underpass ini bukan sekadar jalur alternatif, namun merupakan bentuk komitmen pihak pembangun jalan tol tanpa memutus hubungan masyarakat dengan lahan sawah miliknya.
Tentu saja, kehadiran underpass ini diakui tak lagi membuat khawatir petani karena akses ke sawah semakin mudah dan aman, tanpa harus melintasi jalur berbahaya. (*)
Editor : Bayu Saksono