radarsitubondo.id - Jalan Raya Gunung Gumitir merupakan jalur legendaris sejak zaman kolonial Belanda, yang menghubungkan Kabupaten Jember dan Banyuwangi.
Sudah puluhan tahun lamanya, jalur tersebut menjadi urat nadi penghubung sisi ujung timur Provinsi Jawa Timur dengan Pulau Bali.
Namun, geliat pembangunan infrastruktur modern mulai mengguncang takhta keperkasaan rute jalan berliku di perbatasan Jember-Banyuwangi itu.
Dengan segera rampungnya Jalan Tol Probolinggo–Banyuwangi (Probowangi) yang diproyeksikan akan menembus langsung ke Pelabuhan Ketapang beberapa tahun lagi, eksistensi jalur Gumitir mulai jadi pertanyaan, apakah mampu bertahan atau tidak.
Jalan tol Probowangi nanti hadir lebih mulus, cepat, dan bebas tikungan ekstrem seperti yang kini ada di Gunung Gumitir, diprediksi tol ini akan menjadi primadona baru bagi pengendara lintas provinsi, terutama dari Surabaya menuju Bali.
Sejauh ini, rute di sepanjang Gunung Gumitir sejatinya memang menyimpan banyak pesona.
Jalannya berliku di antara hutan tropis dan kabut pagi, serta tanaman kopi di sela pohon besar, juga dihiasi jalur rel kereta legendaris dan kisah mistis yang tak pernah lekang oleh waktu.
‘Kalau sudah musim mudik, banyak saya lihat sopir truk antre di tikungan. Kadang bisa berjam-jam antre di Gumitir kalau ada kendaraan mogok,’ ujar Salis, warga Kalisetail Kecamatan Sempu Banyuwangi yang sering bepergian ke Jember melintasi Gunung Gumitir.
Karena itu, menurutnya, ketika jalan tol Probowangi begitu operasional penuh, rute jalan Gunung Gumitir akan ditinggalkan para sopir truk ekspedisi dari Surabaya yang akan ke Banyuwangi ataupun ke Bali.
Pemerintah memastikan bahwa ruas terakhir Tol Probowangi akan terhubung langsung dengan Pelabuhan Ketapang beberapa tahun lagi.
Ini akan menjadi pemacu tumbuhnya lalu lintas logistik serta pendorong kunjungan wisata dari Jawa ke Bali maupun sebaliknya.
Rute yang dulu mengharuskan pengendara melewati Jember dan tanjakan Gumitir, bakal tergantikan oleh jalur jalan tol mulus yang menyingkat waktu tempuh hingga beberapa jam lebih singkat.
Namun, perubahan infrastruktur jalan tersebut bukan tanpa konsekuensi.
Warung-warung di pinggir jalan Gumitir, dan usaha tambal ban pinggir hutan mulai resah.
‘Kalau semua orang lewat tol, kami mau jualan ke siapa?’ ujar pemilik warung di kawasan lereng Gunung Gumitir yang menolak dipublikasikan identitasnya.
Sementara itu, potensi ‘mati suri’ jalur Gumitir bisa menghapus jejak sejarah transportasi dan budaya lokal yang terbentuk selama puluhan tahun.
Selain menjadi jalur logistik, Gunung Gumitir dikenal sebagai jalur perjuangan di masa kolonial, serta punya nilai spiritual tinggi bagi warga sekitar. (*)
Editor : Bayu Saksono