radarsitubondo.id - Kedua lokasi jalan tol, baik jalan Tol Probolinggo-Banyuwangi (Probowangi) di Jatim, maupun jalan tol Padang – Sicincin di Sumatera Barat (Sumbar) memang banyak melintasi kawasan persawahan milik penduduk.
Meski demikian, perbedaan kondisi tanah sawah antara Jawa Timur dengan lahan sawah di Sumatera Barat bukan hanya tantangan teknis, tetapi juga simbol dari kompleksitas membangun infrastruktur di negara kepulauan Indonesia.
Jenis tanah sawah di wilayah Probolinggi masih mengandung pasir lempung di lokasi jalan tol Probowangi.
Sedangkan persawahan di Sumatera Barat juga mengandung tanah lempung vulkanik, tentu perlu perlakuan yang berbeda.
Karena itu di balik megahnya proyek jalan tol yang tengah berlangsung Pulau Jawa dan Pulau Sumatera, terdapat kisah menarik tentang tanah sawah yang menjadi bagian trase jalan.
Proyek Tol Probowangi dan Tol Padang-Sicincin tak hanya melibatkan kerja rekayasa sipil, tetapi juga perlu adanya adaptasi pada karakteristik masing-masing jenis tanah yang sangat berbeda, meskipun sama-sama merupakan kawasan persawahan rakyat.
Pada wilayah Kabupaten Probolinggo hingga Situbondo hari ini dan nanti di Banyuwangi, sawah yang dilalui tol umumnya berada di tanah aluvial dataran rendah dengan dominasi lempung berpasir.
Tanah jenis tersebut memiliki drainase relatif baik, meski mengandung kadar air tinggi saat musim hujan.
Sebaliknya, tanah sawah di wilayah Sicincin, Sumatera Barat, umumnya berada di dataran tinggi dengan dominasi lempung berat serta kandungan organik tinggi akibat endapan vulkanik dan hutan tropis yang lebat.
Perbedaan jenis tanah sawah tersebut membuat kekuatan dukung tanah (bearing capacity) serta tingkat pemadatan untuk fondasi jalan sangat diperlukan.
Tanah di Jawa Timur cenderung lebih stabil, sedangkan di Sumatera, terutama di Padang-Sicincin lebih mudah mengalami penurunan (settlement) serta membutuhkan penguatan tambahan di sekitar persawahan.
Perbedaan kondisi tanah sawah tersebut memengaruhi metode konstruksi yang digunakan.
Untuk proyek Tol Probowangi, kontraktor cukup menggunakan teknik pemadatan konvensional dengan lapisan pondasi agregat biasa.
Sedangkan untuki kegiatan pembangunan jalan Tol Padang-Sicincin, kontraktor menghadapi tantangan besar berupa tanah lunak yang rawan ambles.
Sementara itu, di Probolinggo, proses konstruksi bisa berlangsung lebih cepat karena tanah dasar relatif padat.
Urutan lapisan fondasi jalan tol di dua proyek ini juga tidak identik.
Untuk wilayah Probolinggo-Banyuwangi, lapisan terdiri dari subgrade (tanah dasar), subbase (lapisan agregat kelas B), base (agregat kelas A), dan terakhir lapisan aspal.
Sedangkan di Padang-Sicincin, seringkali ditambahkan lapisan geotekstil di bawah subgrade untuk mencegah pergeseran tanah, serta sistem drainase lateral untuk mengurangi tekanan air pori. (*)
Editor : Bayu Saksono