radarsitubondo.id - Keberadaan Jalan Tol Probolinggo-Banyuwangi (Probowangi) yang sedang dalam tahap penyelesaian diprediksi akan menjadi jalur strategis baru bagi pergerakan barang dan jasa lintas provinsi antara Pulau Jawa dan Bali.
Tol Probowangi diproyeksikan memangkas waktu tempuh dan membuka akses logistik yang lebih efisien dari kawasan industri di Jawa Timur menuju pasar pariwisata dan ekonomi di Bali.
Namun, di balik harapan tersebut, muncul tantangan besar di ujung timur Pulau Jawa: Pelabuhan Ketapang.
Lonjakan arus kendaraan yang diperkirakan terjadi setelah Tol Probowangi beroperasi penuh dikhawatirkan akan menyebabkan penumpukan kendaraan di pelabuhan penyeberangan menuju Gilimanuk, Bali.
‘Jika tidak ada antisipasi yang serius, Ketapang bisa jadi titik leher botol baru bagi arus logistik antar pulau,' ujar Gerda Sukarno, driver lintas kota dalam provinsi Jawa Timur yang biasa melahap rute Bayuwangi-Surabaya serta Denpasar Bali.
Menurut Gerda, fasilitas pelabuhan dan jumlah kapal yang saat ini beroperasi kemungkinan besar tidak akan mampu menampung lonjakan kendaraan, terutama truk barang dan kendaraan pariwisata, yang akan meningkat drastis bila Tol Probowangi sudah rampung tahun depan.
Data dari berbagai sumber menyebutkan, kapasitas rata-rata Pelabuhan Ketapang saat ini hanya mampu menampung sekitar 10.000 kendaraan per hari.
Sementara, dengan hadirnya Tol Probowangi tahun depan, angka itu diprediksi melonjak hingga 15.000 kendaraan per hari, terutama di masa liburan sekolah dan musim mudik Lebaran.
Solusi jangka pendek yang disarankan adalah penambahan jumlah kapal feri yang melayani lintasan Ketapang-Gilimanuk serta percepatan bongkar muat di pelabuhan.
Namun, beberapa pihak menilai langkah tersebut masih belum cukup.
‘Jika pertumbuhan arus terus meningkat, sudah waktunya kita bicara soal pembangunan jembatan penghubung Jawa-Bali,’ ujar Gerda.
Menurutnya, pembangunan jembatan bisa menjadi solusi jangka panjang yang tidak hanya mempercepat pergerakan ekonomi tetapi juga mengurangi ketergantungan pada sistem feri yang rentan terhadap cuaca dan antrean panjang.
Gagasan pembangunan Jembatan Jawa-Bali memang bukan hal baru, namun hingga kini masih sebatas wacana karena kompleksitas teknis, lingkungan, dan sosial.
Dengan kata lain, infrastruktur di ujung tol harus bersiap menyambut gelombang mobilitas baru.
Jika tidak, impian memperlancar arus barang dan jasa bisa berubah menjadi mimpi buruk kemacetan antarpulau. (*)
Editor : Bayu Saksono