RADARSITUBONDO.ID - Setiap 2 Oktober, Indonesia kompak “seragam” batik. Bukan sekadar gaya massal mendadak, momen ini adalah penghormatan pada warisan budaya yang sejak 2009 sudah dicap resmi UNESCO.
Menariknya, perayaan Hari Batik Nasional tak pernah kering ide, selalu hadir dengan tema dan ikon baru yang mencerminkan kondisi bangsa.
Baca Juga: Rekrutmen PLN Group 2025 Dibuka! Peluang Emas Berkarir di Sektor Energi untuk Lulusan D3-S2
Tahun 2023 misalnya, mengusung tema “Batik Bangkit.” Bukan slogan kosong, tapi ajakan konkret membangkitkan industri batik pascapandemi.
Fokusnya pun diarahkan ke Generasi Z, biar mereka tahu, batik itu bukan sekadar seragam kantor hari Jumat. Dari Sumatera hingga Papua, setiap motif punya cerita, dan itu butuh pewaris muda untuk tetap hidup.
Baca Juga: Kesempatan Terbatas! 5 Hari Pendaftaran PLN Group 2025 untuk Fresh Graduate hingga Magister
Setahun berselang, 2024 hadir dengan tema “Bangga Berbatik.” Dari fase bangkit, kini masuk fase percaya diri, batik bukan hanya untuk kondangan, tapi bisa dipakai nongkrong di kafe tanpa takut disebut “tua gaya.” Ikon tahun ini jatuh pada Batik Tulis Tenun Gedhog Tuban dengan motif Phoenix, simbol percampuran budaya Jawa–Tiongkok.
Lalu 2025 giliran Batik Tulis Merawit Cirebon tampil sebagai ikon, terkenal dengan detail rumitnya, saking rumitnya, pengrajinnya mungkin lebih telaten dari orang yang bikin skripsi revisi berkali-kali.
Baca Juga: 5 Blunder Pelamar Rekrutmen PLN Group 2025 yang Bikin Gagal Total, Plus Solusinya!
Di balik pergantian tema dan ikon, ada strategi serius, memberi panggung bergiliran bagi sentra batik daerah, menjaga relevansi, hingga mendongkrak ekonomi lokal.
Ke depan, tantangannya jelas, bagaimana membuat batik tetap relevan bagi generasi digital yang lebih akrab dengan hoodie dan sneakers.
Tapi dengan kreativitas yang terus berkembang, Hari Batik Nasional membuktikan bahwa tradisi bisa tetap hidup, dinamis, keren, dan tentu saja, Instagrammable. (*)
Editor : Ali Sodiqin