RADARSITUBONDO.ID - SEMENTARA itu, bagi Gerakan Situbondo Membaca (GSM), Festival Literasi Situbondo (FLS) merupakan kegiatan yang cukup bermanfaat bagi aktivis literasi di Kota Santri.
Sebab itulah, acara gebyar tersebut perlu didukung oleh semua kalangan untuk Situbondo benar-benar naik kelas.
Ketua Gerakan Situbondo Membaca (GSM), Imam Sofyan mengaku sekitar sebelas tahun dirinya begerak di medan literasi.
Baru kali ini mendapat persembahan festival literasi yang lumayan besar. Apalagi ditempatkan di pusat kota, yakni Alun- alun Kota Santri.
“Kalau tanya pada kami, ya sangat mengapresiasi Festival Literasi, apalagi ini yang pertama kali. Saya harap untuk selanjutnya selalu digelar. Ini perdana dan semoga bukan yang terakhir,” tegas Sofyan, Jumat (10/10).
Tema yang diangkat adalah narasi lokal. Baik itu budaya, kuliner wisata, tradisi seputar Situbondo.
Selama ini, belum pernah ada kegiatan literasi sebesar ini.
Tujuan menjadikan narasi lokal sebagai yang utama, itu sangat penting.
“Melalui festival literasi inilah budaya baca di Situbondo semakin mengakar kuat. Bagus dan perlu didukung bersama,” kata Sofyan.
Narasi lokal sangat penting untuk diangkat, karena akan memperkuat identitas budaya.
Di Situbondo narasi yang perlu diangkat sudah berkembang pesat di tengah-tengah masyarakat.
“Misalnya, jika bicara tentang narasi kuliner, maka sudah tentu nasi sodu dan tajin palappa. Kalau bicara narasi lokal tentang pariwisata tentu Pasir Putih. Untuk narasi tradisi di Situbondo masih kental dengan mamaca, aparlo, ini kan perlu kita kuatakan kembali,”ucap Sofyan.
Dia menerangkan, tolak ukur literasi Situbondo meningkat bisa dilihat dari akses buku yang makin mudah. Contoh kecilnya adalah keberadaan perpustakaan desa di masing masing desa.
Pustkawannya juga ada.
“Perpustakaan Desa Peleyan, Kecamatan Panarukan, ada Perpustakaan Garden Millenial Dawuhan (GMD) yang dilaunching Bunda Baca Situbondo, Husna Laili atau Mbak Una. Bahkan ke depan bunda baca akan terus meresmikan perpustakan lain agar lebih muda akses bukunya,” papar Sofyan.
Jika berbicara minat baca, lanjut dia, maka bicara kemudahan akses.
Jika akses sulit, otomastis minat bacanya rendah. Sebab buku itu merupakan benda mati dan harus ada yang menggerakkan.
“Kalau tidak digerakkan, dikenalkan pada masyarakat bagaimana buku bisa diminati banyak orang?,” tutup Sofyan. (hum/pri/adv)
Editor : Edy Supriyono