RADARSITUBONDO.ID - Kementerian Agama secara resmi memperkenalkan logo Hari Santri Nasional 2025 yang dinamakan "Pita Cakrawala" pada tanggal 22 September 2025 di Pesantren Tebuireng, Jombang.
Logo ini tidak hanya sekadar gambar, tetapi juga merepresentasikan perjalanan panjang santri dari Resolusi Jihad tahun 1945 hingga zaman digital sekarang ini.
Baca Juga: Siswa SMAN 1 Situbondo Sabet Medali Perak OSN 2025, Harumkan Nama Kabupaten di Kancah Nasional!
Filosofi Pita dan Cakrawala
Pita melambangkan hubungan yang menyatukan berbagai ragam bangsa menjadi satu kesatuan yang harmonis. Gerakan pita yang lentur menunjukkan perjalanan hidup santri yang penuh liku, tetapi selalu menuju satu tujuan.
Sedangkan cakrawala melambangkan pandangan yang luas dan tidak terbatas, tempat di mana langit dan bumi bertemu, menjadi ruang untuk harapan baru.
Baca Juga: Dampak Orang Tua yang Selalu Membela Anak Walaupun Salah, Ketika Kasih Sayang Salah Arah
Enam Pita, Enam Kekuatan
Logo ini terdiri dari enam pita berwarna yang melambangkan enam kekuatan utama santri: iman, ilmu, amal, akhlak, persatuan, dan perjuangan.
Bentuk gelombang yang melengkung ke atas menunjukkan perjalanan santri dari masa kemerdekaan hingga sekarang, yang terus berkembang dan memimpin kemajuan.
Baca Juga: Terlalu Protektif? Ini 5 Efek Buruk Membela Anak Saat Salah pada Mental Mereka
Makna Enam Warna
Setiap warna pada logo memiliki makna yang dalam: hijau melambangkan iman dan spiritualitas, oranye menunjukkan kreativitas dan harapan, biru menggambarkan ilmu pengetahuan dan keterbukaan terhadap dunia, magenta melambangkan semangat perjuangan dan cinta tanah air, kuning merepresentasikan kebijaksanaan dan akhlak yang baik, sementara ungu menunjukkan kesatuan spiritual yang kuat.
Di tengah logo terdapat sebuah titik yang menyatukan semua enam pita. Elemen ini menggambarkan area untuk pertemuan global, percakapan antarnegara, dan keseimbangan peradaban dunia, menyoroti peran santri sebagai penghubung untuk mencapai kemajuan dunia sambil tetap menjaga nilai-nilai Islam dan kebangsaan.
Editor : Ali Sodiqin