RADARSITUBONDO.ID - Salah satu Asrama Pondok Pesantren (Ponpes) Syehk Abdul Qodir Jailani di Dusun Pesanggrahan, Desa Belimbing, Kecamatan Besuki, ambrol, Rabu (29/10) dini hari.
Diduga kuat akibat diterjang hujan dan angin kencang. Akibat insiden tersebut, satu santri putri meninggal dan belasan lainnya terluka.
Sekitar pukul 23.30 terjadi hujan deras disertai angin yang cukup kencang.
Pada pukul 01.00 para santri putri sudah tidur di dalam asrama.
Tiba-tiba atap asrama ambruk menimpa belasan santri yang sedang beristirahat.
Santri yang mengalami musibah hanya bisa menangis dan berteriak.
Mendengar itu, pengasuh pesantren dan santri yang lain menuju lokasi kejadian.
Mereka mengevakuasi para korban dari reruntuhan atap asrama.
Selanjutnya para korban yang terluka dilarikan ke RSIA Jatimed, tidak jauh dari Pesantren.
”Begitu mendengar ada benda jatuh, saya dan pengurus serta santri langsung mendatangi asrama yang ambruk dan mengevakuasi para santri yang berada di dalam. Yang terluka langsung dilarikan ke rumah sakit,” tegas Pengasuh Ponpes Syalafiah Syafi'iyyah Syeh Abdul Qodir Jaelani, KH. Muhammad Hasan Ainul Ilmi.
Atas insiden tersebut dia mengucapkan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga santri yang meninggal dunia.
Dia berjanji akan terus mendampingi korban hingga proses pemulihan.
“Kami sangat berduka. Ini cobaan berat bagi keluarga besar pesantren. Kami akan memastikan seluruh korban mendapatkan perawatan dan pendampingan penuh,” ujar Kiai Muhammad Hasan Ainul Ilmi.
Koordinator BPBD Situbondo, Puriyono mengatakan, Santri yang meninggal diduga akibat reruntuhan plafon bernama Putri Hemilia, 13, warga Dusun Rawan, Desa/ Kecamatan Besuki.
Alm Putri, sempat dilarikan ke RSIA Jatimed, tidak jauh dari Pesantren. Dia meninggal pukul 6.00.
“Jenazah korban sudah dimakamkan pukul 8.00. Pihak keluarga korban menganggap kematian putrinya sebagai takdir dan menerima atas musibah yang terjadi serta membuat surat pernytaan tidak menuntut pihak manapun,” tegas Puriyono.
Korban lain yang terluka sebanyak sebelas santri.
Di antaranya sudah dirawat Puskesmas Besuki enam orang.
Namun, mereka sudah bisa rawat jalan. Empat orang dirawat di RSUD Besuki, dua diantranya sudah bisa rawat jalan, dan dua santri membutuhkan tindakan operasi.
“Yang meninggal satu orang, tiga orang santri putri masih rawat jalan, dan delapan orang sudah bisa rawat jalan,” tegas Puriyono.
Dikatakan, penyebab plafon roboh diduga akibat diterjang hujan dan angin kencang pada malam kejadian.
Untuk penyebab yang lebih pasti masih menunggu hasil penyelidikan anggota Polres Situbondo.
“Untuk penyebab kematian santri putri dan penyebab plafon roboh masih menunggu hasil penyelidikan anggota Polres Situbondo,” pungkas Puriyono. (hum/pri)
Editor : Edy Supriyono