RADARSITUBONDO.ID - Setiap tanggal 5 November, orang-orang di Indonesia merayakan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional.
Ini adalah cara untuk menunjukkan perhatian terhadap berbagai macam kehidupan alam di Nusantara. Tanggal ini ditetapkan oleh Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 1993 yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto pada 9 Januari 1993.
Tujuannya adalah untuk membangun rasa cinta dan kesadaran dalam melindungi flora dan fauna yang khas dari Indonesia.
Baca Juga: Drama 3 Gol Zambia di 15 Menit Terakhir Babak Pertama Tundukkan Indonesia U17
Latar Belakang Penetapan
Dalam keputusan tersebut, Indonesia diakui sebagai negara yang memiliki banyak jenis tumbuhan dan hewan unik, bahkan beberapa hanya bisa ditemukan di sini.
Oleh karena itu, kita punya tanggung jawab besar untuk menjaga dan melestarikannya. Keberagaman flora dan fauna ini adalah kebanggaan bangsa yang harus dilindungi dan dimanfaatkan dengan bijak.
Baca Juga: Melewati Daerah Mana Saja Jika Jalan Tol Probowangi Dialihkan dari Situbondo ke Jember?
Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan biodiversitas yang luar biasa, memiliki lebih dari 30.000 jenis tanaman, sekitar 1.700 jenis burung, dan lebih dari 500 jenis mamalia.
Namun sayangnya, kekayaan ini sedang terancam oleh masalah seperti penebangan hutan, perburuan ilegal, perdagangan hewan yang dilarang, dan perubahan iklim.
Simbol Puspa dan Satwa Nasional
Dalam Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 1993, pemerintah memilih tiga hewan yang mewakili berbagai lingkungan: Komodo sebagai satwa nasional, Ikan Siluk Merah atau Arwana Merah sebagai satwa yang menarik perhatian, dan Elang Jawa sebagai satwa yang terancam.
Untuk bunga nasional, ditetapkan Melati sebagai puspa bangsa, Anggrek Bulan sebagai puspa yang menarik, dan Padma Raksasa atau Rafflesia arnoldii sebagai puspa yang langka.
Baca Juga: Warga Jember Semringah, Jalan Tol Probowangi Dimungkinkan Bisa Lewat Wilayah Gus Fawait
Penetapan simbol-simbol ini bukan hanya sekadar formalitas, tetapi juga sebagai gambaran dari ekosistem yang beragam di Indonesia, mulai dari hutan tropis hingga lautan dalam, yang semuanya butuh perhatian dan perlindungan yang serius.
Peran Masyarakat dalam Pelestarian
Tahun 2025 menjadi momen penting untuk menyatukan dunia dalam usaha menghentikan kepunahan berbagai spesies dan kerusakan lingkungan.
Masyarakat bisa ikut berkontribusi dengan cara yang sederhana, seperti mengunjungi tempat-tempat seperti taman nasional atau kebun binatang konservasi untuk belajar, ikut serta dalam kegiatan lingkungan seperti webinar atau lomba foto alam yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta menyebarkan informasi tentang pelestarian melalui media sosial.
Generasi muda memiliki peran yang sangat penting, misalnya dengan menanam pohon-pohon yang tidak ada di tempat lain, merawat taman di sekolah, atau menjalani gaya hidup yang ramah lingkungan.
Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, tidak membeli hewan peliharaan yang langka, dan melindungi tempat tinggal alami hewan adalah langkah-langkah nyata yang bisa memberikan dampak besar.
Nilai Strategis Keanekaragaman Hayati
Tanaman dan hewan tidak hanya memiliki nilai untuk lingkungan, tetapi juga untuk ekonomi, sosial, dan budaya. Banyak tanaman dari Indonesia digunakan sebagai obat tradisional, sumber makanan, dan bahan untuk kerajinan tangan.
Hewan seperti burung cendrawasih, komodo, dan orangutan menjadi simbol bangga dan juga mendukung sektor pariwisata yang berkelanjutan.
Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2025 juga menghargai usaha para pejuang konservasi: penjaga hutan, peneliti, aktivis lingkungan, dan masyarakat adat yang telah tinggal harmonis dengan alam.
Mereka adalah orang-orang yang berjuang untuk menjaga kekayaan alam Indonesia tetap ada walaupun menghadapi berbagai tantangan. Dukungan dari masyarakat dan kebijakan pemerintah yang mendukung keberlanjutan akan memperkuat usaha mereka.
Pada akhirnya, mencintai tanaman dan hewan berarti juga mencintai kehidupan itu sendiri. Setiap langkah kecil dalam menjaga lingkungan adalah investasi untuk masa depan bumi yang sehat dan bisa bertahan lama.
Editor : Ali Sodiqin