RADARSITUBONDO.ID - La Nina adalah fenomena cuaca global yang terjadi saat suhu permukaan Samudra Pasifik bagian tengah dan timur menjadi lebih dingin dengan signifikan.
Situasi ini ditandai dengan suhu air laut yang lebih rendah dari biasanya di daerah Pasifik yang dekat dengan ekuator, yang menyebabkan perubahan besar dalam pola cuaca di tingkat regional dan global.
Baca Juga: Terjemahan Makin Cerdas! Google Translate Integrasikan Gemini AI dengan Dua Mode Pilihan
Proses La Nina dimulai ketika angin pasat dari timur bertambah kuat, sehingga mendorong air hangat ke arah barat menuju Asia dan Australia. Sementara itu, air dingin dari bagian bawah lautan naik ke permukaan di Pasifik timur.
Hal ini mengubah kadar kelembapan di atmosfer di atas Samudra Pasifik dan akhirnya mempengaruhi sirkulasi udara di seluruh dunia.
Bagi Indonesia, La Nina bisa meningkatkan hujan hingga 20 persen, yang membawa dua dampak. Di sisi baik, ketersediaan air untuk pertanian meningkat dengan banyak, terutama untuk lahan tadah hujan.
Waduk dan embung juga cepat terisi, sehingga ada cukup air saat musim kemarau. Selain itu, hasil pertanian bisa meningkat karena banyaknya air tersedia.
Baca Juga: Modus 'Jatah Preman'! KPK Tetapkan Gubernur Riau Abdul Wahid Tersangka Korupsi Anggaran
Namun, ada juga sisi buruk yang tidak bisa diabaikan. Curah hujan yang berlebihan bisa menyebabkan banjir di lahan pertanian, yang bisa mengakibatkan gagal panen.
Kelembapan yang tinggi bisa menciptakan kondisi yang baik bagi penyakit tanaman. Erosi tanah dan kebocoran waduk juga merupakan ancaman serius.
Baca Juga: Sinopsis Agak Laen: Menyala Pantiku! - Aksi Kocak Empat Detektif Gagal Berburu Pembunuh
La Nina yang muncul pada akhir tahun 2024 dianggap lemah karena suhunya hanya 0,7°C lebih rendah dari rata-rata, yang jauh lebih ringan dibandingkan dengan kejadian kuat di tahun 2010-2011 yang mencapai 1,6°C lebih rendah dari normal. Diperkirakan akan kembali ke kondisi normal pada musim semi 2025.
Editor : Ali Sodiqin