RADARSITUBONDO.ID - Presiden Prabowo Subianto secara resmi memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo pada Senin, 10 November 2025, bertepatan dengan Hari Pahlawan. Ini adalah momen penting setelah beliau meninggal dunia 36 tahun yang lalu.
Sarwo Edhie Wibowo lahir pada 25 Juli 1927 di Desa Pangenjuru, Purworejo, Jawa Tengah, dari pasangan Raden Kartowilogo dan Raden Ayu Sutini.
Sejak kecil, beliau suka belajar seni bela diri silat untuk melindungi diri. Ketika Jepang menguasai Indonesia pada tahun 1942, beliau pergi ke Surabaya untuk mendaftar sebagai anggota Pembela Tanah Air (PETA).
Baca Juga: Bapak Pluralisme Raih Penghargaan Tertinggi, Ini Alasan Gus Dur Jadi Pahlawan Nasional
Karier militernya dimulai sebagai komandan kompi di Tentara Keamanan Rakyat (TKR) selama Perang Kemerdekaan dari 1945 sampai 1949.
Prestasinya semakin cemerlang ketika dari tahun 1964 hingga 1967, beliau ditunjuk sebagai Komandan RPKAD, yang sekarang dikenal sebagai Kopassus.
Baca Juga: Merawat Baju Parasut Ternyata Mudah, Asal Tahu Caranya!
Sarwo Edhie sangat akrab dengan Jenderal Ahmad Yani, yang saat itu menjabat sebagai Panglima Angkatan Darat, dan mereka memiliki hubungan yang dekat.
Ketika mendengar bahwa Ahmad Yani, sahabatnya, meninggal, Sarwo Edhie langsung menggerakkan pasukan RPKAD dari markas di Cijantung ke Jakarta untuk menjaga keamanan saat peristiwa G30S/PKI pada tahun 1965.
Baca Juga: Syarat Redenominasi Rupiah, Apa Saja yang Harus Dipenuhi?
Pemberian gelar Pahlawan Nasional ini didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 116/TK/Tahun 2025 tanggal 6 November 2025, sebagai penghargaan atas jasanya yang luar biasa dalam perjuangan bersenjata.
Nama Sarwo Edhie Wibowo diusulkan oleh Provinsi Jawa Tengah untuk kategori Pahlawan di Bidang Perjuangan Bersenjata.
Proses pengajuan gelar Pahlawan Nasional untuk Sarwo Edhie membutuhkan waktu sekitar 15 tahun, dimulai dengan usulan pertama pada tahun 2013 dari masyarakat dan pemerintah daerah Purworejo.
Ahli warisnya, yang diwakili oleh cucunya, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), hadir dalam upacara penganugerahan di Istana Negara Jakarta.
Selain berkarir di lapangan, Sarwo Edhie juga pernah diamanahi untuk memimpin Akademi Militer Magelang, menjadi Duta Besar RI untuk Korea Selatan, dan menjabat sebagai Ketua BP-7 Pusat.
Beliau meninggal pada 9 November 1989 di Jakarta pada usia 62 tahun dan dimakamkan di Kampung Sibak, Kelurahan Sindurjan, Purworejo.
Namanya dihormati dengan penamaan Gedung Olahraga (GOR) dan Stadion di Purworejo sebagai ungkapan rasa terima kasih masyarakat kepada putra daerah yang telah berjasa bagi negeri ini.
Editor : Ali Sodiqin