RADARSITUBONDO.ID - Presiden Prabowo Subianto memberikan gelar pahlawan nasional kepada Jenderal TNI (Purnawirawan) Sarwo Edhie Wibowo pada hari Senin, 10 November 2025, saat peringatan Hari Pahlawan.
Gelar ini diberikan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 116/TK Tahun 2025 mengenai pemberian gelar pahlawan nasional.
Baca Juga: Bapak Pluralisme Raih Penghargaan Tertinggi, Ini Alasan Gus Dur Jadi Pahlawan Nasional
Acara ini diadakan di Istana Negara, Jakarta, dan diwakili oleh Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang menerima penghargaan tersebut sebagai perwakilan keluarga.
Sarwo Edhie Wibowo merupakan ayah dari Kristiani Herrawati, yang adalah istri dari Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono.
Baca Juga: Merawat Baju Parasut Ternyata Mudah, Asal Tahu Caranya!
Jenderal yang lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 25 Juli 1927 ini mendapatkan gelar pahlawan nasional karena jasa-jasanya di bidang perjuangan bersenjata.
Perjuangan militernya dimulai saat ia menjabat sebagai komandan kompi di Badan Keamanan Rakyat (BKR) selama masa perang kemerdekaan dari 1945 hingga 1949.
Baca Juga: Syarat Redenominasi Rupiah, Apa Saja yang Harus Dipenuhi?
Karier luar biasa Sarwo Edhie mencapai titik tertinggi ketika ia menjadi Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), sekarang dikenal sebagai Kopassus, antara tahun 1964 dan 1967.
Ia memiliki peran penting dalam mengatasi Gerakan 30 September (G30S/PKI), dengan memimpin langsung tindakan di Jakarta dan Jawa Tengah.
Baca Juga: Bukan Sekadar Anti-Valentine, Ini Makna Hari Jomblo 11 November
Setelah meninggal 36 tahun yang lalu pada 9 November 1989 di usia 62 tahun, kini negara menghargai kontribusinya dalam menjaga keutuhan Bangsa Indonesia.
Bagi para prajurit Baret Merah Kopassus, nama Sarwo Edhie tetap dikenang sebagai tokoh legendaris dalam banyak buku sejarah.
Sarwo Edhie adalah salah satu dari sepuluh orang yang mendapat gelar pahlawan nasional tahun ini, bersamaan dengan tokoh-tokoh lain seperti K. H. Abdurrahman Wahid, Presiden Soeharto, dan aktivis buruh Marsinah.
Editor : Ali Sodiqin