Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Lagu Hymne Guru yang Legendaris, Tercipta dari Kesulitan Ekonomi dan Dedikasi Luar Biasa

Bayu Shaputra • Selasa, 25 November 2025 | 16:31 WIB

 

Hari Guru Nasional 2025.
Hari Guru Nasional 2025.

RADARSITUBONDO.ID - Setiap tanggal 25 November, banyak sekolah di Indonesia dipenuhi dengan suara lagu yang sama, Hymne Guru. Lagu ini lebih dari sekedar melodi dan lirik, melainkan merupakan wujud pengabdian yang mendalam dari seorang pendidik terhadap tugasnya.

Hymne Guru diciptakan oleh Sartono, seorang guru musik honorer dari Madiun yang lahir pada 29 Mei 1938. Ceritanya dimulai ketika Departemen Pendidikan Nasional mengadakan kompetisi pembuatan lagu dengan tema pendidikan pada awal 1980-an.

Dalam waktu yang sangat singkat, yaitu hanya dua minggu, Sartono yang belajar musik secara mandiri mulai membuat lagunya.

 Baca Juga: Gus Yahya akan Undang Kiai Sepuh ke Pesantren Lirboyo untuk Selesaikan Konflik Internal NU

Yang menarik, proses penciptaan lagu ini dimulai dengan hanya bersenandung akibat keterbatasan alat musik. Sartono mencatat setiap nada di selembar kertas sambil merangkai kata satu per satu.

Dari situ lahir judul asli lagu ini, "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa". Kondisi keuangannya yang sulit bahkan memaksanya untuk menjual jas demi mengirimkan karyanya kepada panitia lomba.

Usaha Sartono membuahkan hasil. Karya yang diciptakannya berhasil menjadi juara dalam lomba ini, mengalahkan ratusan peserta lain, dan ia mendapatkan hadiah sebesar 750 ribu rupiah.

Sejak tahun 1987, Hymne Guru telah ditetapkan sebagai lagu nasional yang harus dinyanyikan setiap Hari Guru Nasional.

 Baca Juga: Di Tengah Perundingan Jenewa, Trump Kritik Pedas Presiden Ukraina

Uniknya, lirik lagu ini mengalami revisi pada tahun 2007. PGRI mengeluarkan surat edaran Nomor 447/Um/PB/XIX/2007 yang mengganti bait terakhir dari "Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa" menjadi "Engkau patriot pahlawan bangsa, pembangun insan cendekia".

Perubahan ini dimaksudkan untuk meningkatkan penghormatan terhadap profesi guru, karena frasa yang lama dianggap kurang mencerminkan martabat pendidik.

Lagu ini memiliki tempo maestoso dan nada dasar C dengan ketukan 4/4, menciptakan suasana yang khidmat dan megah. Setiap baitnya penuh makna, guru diilustrasikan sebagai cahaya dalam kegelapan dan embun yang menyejukkan di kala dahaga.

Sartono meninggal dunia pada 1 November 2015 di RSUD Kota Madiun karena komplikasi penyakit.

Meskipun sudah tiada, karyanya tetap hidup sebagai simbol penghargaan bagi semua guru di Indonesia yang telah mengabdikan dirinya tanpa pamrih untuk mencerdaskan generasi bangsa.

Editor : Ali Sodiqin
#Lagu Hymne Guru