RADARSITUBONDO.ID – Hujan yang mengguyur Kota Padang sepanjang Kamis (27/11) disebut sebagai salah satu dampak dari cuaca ekstrem yang beberapa hari terakhir terjadi di wilayah Sumatera.
Intensitas hujan tinggi tersebut memicu banjir besar di sejumlah titik di Kota Padang.
Menurut laporan BPBD, hujan yang berlangsung dari pagi hingga malam hari membuat debit sungai meningkat dengan cepat.
Aliran air yang kuat kemudian meluap dan masuk ke kawasan permukiman, terutama di daerah yang berada dekat aliran sungai, seperti Lubuk Minturun.
Di lokasi itu, banjir membawa lumpur dan batang kayu besar yang merusak rumah warga dan menyebabkan empat orang meninggal dunia.
Selain itu, jembatan penghubung di Koto Luar, Kecamatan Pauh, putus akibat dihantam material besar yang hanyut bersama arus.
Kerusakan ini membuat akses masyarakat terganggu dan membutuhkan penanganan darurat.
BPBD mencatat cuaca ekstrem memberikan dampak pada 17 kelurahan di tujuh kecamatan.
Selain banjir, longsor dan pohon tumbang terjadi di sejumlah lokasi. Hingga sore, tim di lapangan terus memperbarui data karena laporan baru terus berdatangan.
Sebelumnya, BMKG juga telah mengingatkan potensi cuaca ekstrem akibat pertumbuhan awan konvektif di kawasan Sumatra.
Bahkan bibit siklon yang berkembang sejak pekan lalu disebut ikut memperkuat potensi hujan deras di beberapa wilayah.
Dalam rapat virtual, Wakil Gubernur Sumbar Vasko Ruseimy menyebut total korban meninggal di seluruh wilayah Sumbar mencapai 12 orang, sementara sekitar 12.000 warga terdampak.
Ia menegaskan bahwa pembersihan material, pembukaan akses vital, serta pemulihan jaringan komunikasi menjadi tantangan terbesar bagi tim di lapangan.
Pemprov Sumbar telah menetapkan status tanggap darurat untuk mempercepat pergerakan bantuan dan penanganan.
Sejumlah kabupaten/kota lain juga menetapkan status serupa dan beberapa wilayah masih dalam proses.
Pemerintah mengimbau masyarakat tetap waspada karena potensi cuaca buruk diprediksi masih bisa berlanjut beberapa hari ke depan. (*)
Editor : Ali Sodiqin