RADARSITUBONDO.ID - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengkritik keras pemerintah daerah yang tidak sigap dalam merespons peringatan cuaca ekstrem.
Dalam Rapat Koordinasi Pusat dan Daerah yang dilaksanakan secara hybrid pada Senin (1/12/2025), ia menyatakan bahwa dampak bencana akibat Siklon Tropis Senyar sebenarnya bisa diminimalkan jika peringatan awal segera diikuti dengan tindakan.
Faisal menjelaskan bahwa BMKG telah memprediksi akan terbentuknya Siklon Tropis Senyar sejak delapan hari sebelum kejadian.
Peringatan pertama diumumkan pada 20 November, lalu diulang empat hari setelahnya, dan terakhir dua hari sebelum dampak paling parah terjadi.
Baca Juga: Realme dan Redmi Akan Guncang Pasar Mid-Range dengan Mengusung Kamera 200MP
Kepala Balai Besar BMKG Wilayah 1 telah mengeluarkan peringatan berulang kali untuk Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, namun beberapa pemerintah daerah diakui masih lambat dalam memberikan respons yang tepat.
Akibatnya, BNPB melaporkan adanya 442 korban jiwa dan 402 orang hilang akibat banjir serta longsor di kawasan Sumatra.
Faisal menekankan bahwa saat ini adalah musim hujan yang menjadi waktu risiko tinggi bagi perkembangan bibit siklon tropis di selatan Indonesia.
Fenomena ini dapat berkembang dengan cepat yang dapat menyebabkan hujan lebat dan banjir dalam waktu yang singkat, sehingga tindakan cepat sangat penting untuk mencegah terjadinya kehilangan nyawa.
Baca Juga: Netanyahu Minta Ampun ke Presiden Israel, Tuding Persidangan Korupsi Hancurkan Persatuan Bangsa
Kepala BMKG meminta kepada semua kepala daerah untuk tidak hanya bersikap waspada, melainkan juga siap dan segera bertindak saat menerima informasi tentang peringatan cuaca ekstrem.
BMKG terbuka untuk diundang berdiskusi mengenai persiapan menghadapi ancaman cuaca yang akan datang melalui pos atau koordinator di setiap provinsi.
"Peringatan dini akan memicu tindakan dini menuju nol korban," tegasnya, menekankan pentingnya kesiapan dalam menghadapi ancaman cuaca ekstrem, terutama menjelang periode liburan Natal dan Tahun Baru 2025/2026.
Periode Desember hingga pertengahan Januari diperkirakan akan mengalami anomali atmosfer yang saling memperkuat, yang akan meningkatkan kemungkinan hujan ekstrem, angin kencang, dan gangguan cuaca lainnya di berbagai daerah di Indonesia.
BMKG telah menyiapkan berbagai layanan pemantauan termasuk radar cuaca dan posko-posko di tingkat nasional hingga daerah untuk mendukung upaya mitigasi bencana.
Editor : Ali Sodiqin