Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Desa Garoga Hilang dalam Hitungan Jam! 40 Warga Tewas, Puluhan Masih Dicari

Fanzha Shefya Yuananda • Selasa, 2 Desember 2025 | 16:50 WIB
Banjir besar Aek Garoga menyapu Desa Garoga dalam hitungan jam.
Banjir besar Aek Garoga menyapu Desa Garoga dalam hitungan jam.

RADARSITUBONDO.ID – Banjir besar yang menghantam aliran Sungai Aek Garoga pada Selasa siang (25/11) mengubah wajah Desa Garoga hanya dalam beberapa jam.

Hampir seluruh bagian desa yang berada di Kecamatan Batangtoru itu tersapu air bah. Hingga Sabtu (29/11), sebagian warganya masih belum ditemukan.

Desa Garoga yang luasnya mendekati satu juta meter persegi berada di tepi Jalan Lintas Sumatra.

Wilayahnya memanjang dari Desa Hutagodang hingga memasuki perbatasan Kabupaten Tapanuli Tengah.

Sungai Aek Garoga sendiri menjadi batas alam utama dua kabupaten tersebut. Sebagian besar penduduk tinggal di pulau kecil sepanjang lebih dari satu kilometer yang terbentuk oleh dua aliran sungai.

Sekitar separuh dari 270 kepala keluarga menggantungkan hidupnya dari sawah dan kebun di area itu. Dua jembatan, Garoga dan Anggoli, menjadi akses utama keluar-masuk warga.

Menurut pengakuan penyintas, banjir tidak datang langsung dalam ukuran besar. Pada pukul 03.00 dan 06.00 WIB, air hanya naik sebentar lalu turun lagi.

Namun karena hujan terus mengguyur, beberapa warga memilih naik ke dataran lebih tinggi.

Sukrianto (51), salah satu warga yang selamat, mengatakan air besar datang sekitar pukul 11.00 WIB.

Saat itu, gelombang air membawa batang-batang kayu dan menghantam permukiman.

Rumah-rumah di area pulau hilang seketika, seolah disapu ombak besar. Air kemudian membentuk alur sungai baru.

Banyak warga yang mencoba bertahan di jembatan Garoga. Mereka mengira lokasi itu cukup aman karena berada lebih tinggi.

Namun, pohon-pohon besar di sekitar jembatan tumbang terbawa arus dan menimpa warga yang berada di dekatnya.

Istri Sukrianto hilang saat mereka berusaha menyelamatkan diri. Hingga hari ini ia masih mencari jejak keluarga sambil berharap pemerintah memberi tempat tinggal darurat untuk para penyintas.

Sampai Sabtu malam, Puskesmas Batangtoru menerima delapan jenazah tambahan.

Total 40 korban telah ditemukan, sebagian dalam kondisi rusak sehingga sulit diidentifikasi.

Seorang remaja bernama Adjie masih memeriksa satu per satu jenazah untuk mencari ibunya.

Banjir ini juga berdampak pada desa-desa lain seperti Huta Godang dan Aek Ngadol yang berada di sepanjang aliran sungai hingga lebih dari dua kilometer. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#korban jiwa #banjir bandang #desa garoga #listrik mati