Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Tsunami Darat di Batangtoru? Banjir Aek Garoga Robohkan Dua Jembatan Utama

Fanzha Shefya Yuananda • Selasa, 2 Desember 2025 | 16:40 WIB
Tragedi banjir Batangtoru menenggelamkan ratusan rumah.
Tragedi banjir Batangtoru menenggelamkan ratusan rumah.

RADARSITUBONDO.ID – Upaya pencarian korban banjir Aek Garoga masih berlangsung hingga Sabtu malam (29/11). Bencana yang terjadi pada Selasa siang itu menghancurkan Desa Garoga, Kecamatan Batangtoru, dan membuat puluhan warga hilang.

Tim penyelamat terus menyisir lokasi meski kondisi medan sulit akibat banyaknya tumpukan kayu dan lumpur.

Desa Garoga terletak di jalur utama Jalan Lintas Sumatra dan dihuni sekitar 270 kepala keluarga.

Desa ini memiliki pulau kecil yang terbentuk oleh dua cabang Sungai Aek Garoga. Setengah penduduk tinggal dan bekerja di kawasan pulau tersebut.

Menurut keterangan warga, air sempat naik dua kali dalam ukuran kecil sebelum akhirnya berubah menjadi banjir besar menjelang siang.

Banyak warga yang belum sempat keluar dari rumah. Sebagian lainnya mencoba berlari ke perbukitan atau ke jembatan Garoga.

Saat air besar datang, gelombang membawa kayu-kayu besar dan langsung menggerus permukiman. Rumah-rumah di bagian pulau hilang rata dengan tanah.

Jembatan Anggoli tersumbat material kayu, sementara warga yang bertahan di jembatan Garoga justru terkena pohon tumbang akibat derasnya arus.

 Baca Juga: Realme dan Redmi Akan Guncang Pasar Mid-Range dengan Mengusung Kamera 200MP

Sebagian penyintas yang menuju hutan akhirnya tiba di Desa Aek Ngadol setelah air surut.

Jaraknya sekitar satu kilometer lebih dari lokasi banjir. Namun tidak sedikit yang terpisah dari keluarganya dalam situasi panik itu.

Di Puskesmas Batangtoru, jenazah terus berdatangan. Hingga Sabtu malam, total korban meninggal yang ditemukan sudah mencapai 40 orang.

Banyak yang tidak lagi utuh sehingga sulit dicocokkan dengan identitas keluarga.

Petugas puskesmas meminta proses pemakaman dipercepat karena ruang penyimpanan sudah penuh.

Seorang remaja bernama Adjie Siregar menghabiskan hari-harinya memeriksa setiap jenazah yang masuk.

Ia masih mencari ibunya yang belum ditemukan. Hal serupa dialami Sukrianto, warga lain yang kehilangan istri ketika mereka berusaha menyelamatkan diri.

Selain Desa Garoga, banjir ini juga menerjang wilayah Huta Godang dan Aek Ngadol.

Ketiga desa itu terletak di sepanjang aliran sungai dengan panjang lebih dari dua kilometer. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#banjir batangboru #desa garoga #hilang #November 2025 #bencana alam