RADARSITUBONDO.ID - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan peringatan yang jelas kepada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
Lembaga yang bertanggung jawab atas pengawasan kepabeanan ini diberikan waktu satu tahun untuk meningkatkan performa yang dianggap tidak memuaskan.
Purbaya menyatakan bahwa reputasi Bea Cukai saat ini buruk di kalangan masyarakat, media, hingga para pemimpin negara. Dia telah meminta izin dari Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan perbaikan pada institusi ini tanpa adanya gangguan.
Ancaman yang diutarakan cukup serius: jika tidak berhasil memperbaiki diri, Bea Cukai akan dibubarkan dan digantikan oleh Societe Generale de Surveillance (SGS), perusahaan inspeksi asal Swiss yang dulu terlibat dalam pengawasan kepabeanan Indonesia pada masa Orde Baru.
Baca Juga: Korban Terus Bertambah! Puskesmas Terima Jenazah Rusak yang Sulit Diidentifikasi
Keberlangsungan 16. 000 pegawai Bea Cukai kini berada dalam bahaya. Mereka berisiko kehilangan pekerjaan jika perubahan tidak terjadi.
Purbaya menegaskan bahwa ancaman ini bukan sekadar kata-kata, tetapi merupakan langkah konkret dari pemerintah.
Masalah yang perlu segera diselesaikan termasuk praktik under-invoicing (pelaporan nilai barang yang lebih rendah dari seharusnya) yang merugikan pendapatan negara, masuknya barang ilegal seperti kasus 250 ton beras di Aceh, serta dugaan adanya oknum yang bermain di lapangan. Kasus-kasus ini terus muncul dan memicu kecurigaan dari masyarakat.
Baca Juga: Merasa Dibohongi Status Single, Inara Rusli Laporkan Insanul Fahmi
Sebagai tanggapan, Bea Cukai mulai mengimplementasikan teknologi kecerdasan buatan di semua stasiun mereka. Sistem AI ini dirancang untuk mempercepat proses kepabeanan dan mendeteksi penyelewengan secara otomatis.
Purbaya yakin bahwa dengan semangat baru pegawai Bea Cukai, pengembangan perangkat lunak dapat berlangsung dengan cepat.
Saat ini, seluruh jajaran Bea Cukai menyadari resiko besar yang mereka hadapi: beradaptasi atau kehilangan pekerjaan.
Editor : Ali Sodiqin